Senin, 25 Maret 2013

Surat Kecil Untuk Tuhan


[1]
ISTANA DALAM DUNIA KECILKU

            Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus langit-langit kamarku. Aku masih terbaring malas untuk bangun. Namun sepertinya matahari mulai marah padaku, karena masih saja Aku menutup mataku. Cahaya matahari pagi itu mulai menyentuh seluruh isi ruangan di kamarku yang cukup besar. Akhirnya, Aku mengalah pada alam dan Aku harus bangun, inikah hari dimana Aku mulai harus sekolah.
            Uohhhh.... teriakku sambil menguap.
            Hai sobat, kenalkan namaku Gitta Sessa Wanda Cantika. Terlalu panjang ya.. ok!
Biar gampang sebut saja namaku Keke. Aku anak ke-tiga dari tiga saudara. Aku mempunyai dua kakak laki-laki, namanya juga dipersingkat saja. Panggil mereka Koko dan Kiki. Koko, kakak tertuaku sekarang telah menikah dan memberikan Aku seorang keponakan imut dan lucu, sedangkan Kiki, kakakku ke-dua sibuk dengan kerajaan pendidikan dia. Anaknya rajin dan pandai sekali. Terkadang setiap aku mengalami kesusahan dalam pelajaran sekolah. Dia yang terdepan menjadi guru privatku.

            Keluarga kami keluarga yang bahagia, walau Ibu dan Ayah telah bercerai namun hubungan masih terjalin dengan baik. Aku dan kedua kakakku tinggal bersama Ayah. Ops.. tak lupa kukenalkan pahlawan dalam keluarga kami. Dia ini ada raja dari istana kami. Ayahku, teman sekaligus pacarku.. Lucu ya.. Eits jangan salah paham ya! Habis, Ayah walau sudah berumur tampang boleh dibilang tidaa jauh dari Tau Ming Se, bintang F-4  asal Taiwan itu loh..
            Hm.. di hari ini! Saatnya Aku ceritakan tentang bagian dari istana kami. Sejak kecil Aku mempunyai hobby menyanyi dan modeling. Gak percaya? Silakan saja lihat koleksi kamarku. Bukan sombong ya. Tapi itu kan waktu kecil, sekarang Aku sibuk dengan sekolah saja kok! Masih terbayang oleh Aku, ketika Aku beberapa kali menjadi juara model di beberapa kejuaraan dan Aku juga sempat membuat album cilik. Tapi rasanya itu bagian dari masa kecil yang indah. Walau terkadang Aku masih merindukan masamasa itu.
            Sekarang Aku duduk di bangku kelas 1 SLTP Al-Kamar. Aku baru menginjak sekolah ini saat aku masuk pertengahan semester. Karena beberapa masalah dalam keluarga kami, khususnya ketika perceraian orangtua. Aku dan kedua kakakku sempat memutuskan untuk berhenti sekolah.
            Namun akhirnya Aku rindu juga terhadap dunia pendidikan. Suatu ketika ayah mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah yayasan pendidikan. Sehingga akhirnya setelah berdiskusi kami memutuskan untuk kembali sekolah. Dan ternyata pilihan ini tidak salah. Aku sangat bahagia karena memiliki beberapa teman yang baik dan sayang padaku.
            Rasanya menjadi anak remaja adalah bagian dari hidupku saat ini. Terlepas dari semua itu Aku masih berusia 13 tahun. Namun Aku juga mempunyai hobby jalan-jalan ke Mall atau pun sekedar hal rahasia yang ingin Aku ungkapkan. Temen-temenku suka mengeluh jika sedang berpergian denganku. Aku suka menghilang secara tiba-tiba? Mereka terkadang sibuk mencari Aku kemana-mana, padahal sesungguhnya Aku suka sekali menuju tempat bacaan di setiap Mall. Dari sekedar membaca komik sampai novel semua Aku suka! Makanya tak heran Aku bisa berjam-jam berdiri sambil membaca buku di sebuah kios atau toko buku.
            Buat Aku pendidikan adalah segalanya. Dan segala sesuatu yang bisa aku baca untuk menambah pengetahuan otakku, selalu kulahap. Mulai dari buku pintar sampai kamus bahasa Indonesia. Aku sih, sip-sip aja! Oh ya Aku suka sekali komik keluaran Jepang. Bahkan Aku bercita-cita untuk menjadi penulis komik. Di sela-sela waktuku, Aku selalu mengambar Manga atau tokoh kartun Jepang. Entah sudah berapa banyak tokoh kartun imanijasiku terlukis di kertas fileku.
            Tak lupa kukenalkan beberapa sahabat terbaikku yang selalu kukenang dan kusayangin. Mereka adalah Maya yang cantik, Syifa yang unik, Echda yang selalu bikin lucu, terus Chika yang pemalu namun gak malu-maluin. Andini yang selalu tertawa dengan kencang. Kemudian ada Nelly yang mirip Krisdayanti, Idha yang ceriwis. Githon dan Sysca yang selalu berebut hobby yang sama. Dan yang terakhir Nozia yang mirip Rei si Sailor Mars.
            Kami adalah geng yang selalu bersama, susah atau senang. Duka atau tangis. Apapun kami lakukan bersama. Banyak hal yang nyaris tidak pernah kami lakukan tanpa bersama. Karena kami adalah kelompok paling ngetop dan menghebohkan di sekolah kami. Tak kalah dari geng apapun. Karena kami punya motto ”Biar kecil tapi cabe rawit. Biar masih SMP tapi kelakuan SMU”.
            Tak terlupa satu sisi lain yang ingin kukatakan akan perjalanan cinta. Aku pun tak bisa terlepas dari jatuh cinta. Cinta yang mungkin orang lain bilang cinta monyet. Tapi buat Aku, cukup cinta yang indah. Untuk seseorang yang kusayang. Andi, dia adalah pangeran dalam hidupku. Anugerah Tuhan yang membuat Aku serasa seperti putri dalam dongeng.
            Sobat, bisakah kau merasakan apa arti dunia kecil dalam hidup kamu? Ya, dunia kecil. Terkadang ada rasa sedih, benci dan marah. Namun terlepas dari semua itu. Dunia itu terasa indah. Bukankah setiap orang terlahir untuk memiliki dunianya masing-masing. Mungkin istanaku terasa indah, namun ada sisi dimana Aku mulai merasa sedih. Karena Aku juga manusia biasa.
            Mungkin Aku pernah bangga karena terpilih menjadi siswa teladan oleh Pemerintah dan Aku sempat juga mendapatkan pelukan dari Ibu Megawati yang ketika itu menjabat menjadi Presiden. Namun Aku juga harus menghadapi sebuah kenyataan orang tuaku bercerai. Bukankah dunia itu cukup adil untuk manusia. Kebahagian dan kesedihan selalu ada dalam dunia. Apakah Aku layak mengeluh? Tidak. Aku tidak mengeluh. Aku jalanin semua dengan baik-baik saja.

*****
[2]
AIR MATA ITU MULAI ADA

            Suatu ketika di hari yang tak pernah Aku duga. Ketika Aku mulai merasa ada hal lain yang mulai datang pada hidupku. Kakakku Kiki pulang dengan keadaan malu untuk dilihat, wajahnya mirip sekali dengan Ikan Mas. Aku sempat membuat lelucon akan sakit mata yang dialami oleh kakakku. Usut punya usut. Terjadi kehebohan di kelas kakakku. Beberapa siswa
mengalami sakit mata memerah. Dan salah satuhnya adalah kakakku.
Kuperhatikan wajah kakakku ketika makan malam bersama. Kami sempat bercanda ria dan kukatakan pendapat ku tentang sakit mata itu. Ada mitos yang mengatakan itu akibat mengintip. Dan kakakku terlihat malu, namun dia tidak marah karena itu hanya percandaan di meja makan.
            Setelah Ayah memberikan obat mata, keadaan Kakak mulai membaik. Beberapa hari kemudian penyakit itu menghilang. Namun ketika Aku bangun di pagi hari. Aku mulai merasa mataku terasa perih, kulihat cermin di lemariku. Astaga!! Mataku memerah. Aku tertular penyakit mata dari Kakak. Mungkin karena Aku dikutuk Kakak karena ejekan saat itu. Rasanya malu sekali untuk makan pagi bersama bila kakakku melihat wajahku ini.
            Benar saja. Tawa kakakku terlihat senang ketika ia melihat wajahku. Untungnya Ayah sempat melotot ke arah Kakak dan dia terdiam. Hal pertama yang Ayah tanyakan padaku adalah.
            ”Gimana Ke, sakit? Nanti pulang sekolah kita ke dokter ya!” tanya Ayah
dan Aku hanya terdiam karena malu.
            Kejadian itu baru saja terjadi di rumah. Entah apa yang bisa kupikirkan di kelasku nanti. Semua pasti akan menertawakan Aku. Memang hal itu terjadi. Semua murid di kelasku memandang dengan aneh, dan Aku hanya menutupin wajahku dengan tisue. Hingga temen sebangkuku Chika bertanya,
            ”Kenapa loe, Ke?” tanya Chika.
            ”Mata gua, kena tepa Kiki, aduh malu deh.!” ujarku.
            ”Ah sebodoh amat. PD aja lagi. Lagian bukan hal yang biasa kok. Kemarin kan sempet heboh di kelas sebelah juga ada yang kena!”
            ”Oh ya kok gua gak tau ya..!”
”Apa sih yang loe tau, komik melulu sih! Tapi baguslah dengan gitu. Mereka juga gak ada yang berani katain loe, takut ketepa haha!”
”Dasar loe ah!” ujarku pada Chika.
Nampaknya gosip kutukan bila meledek orang yang sakit mata, cukup ampuh untuk membuat temen-temenku diam. Namun aku malu untuk bertemu Andi pacarku. Untungnya hari ini dia berhalangan hadir. Aku masih sempat mengikuti pelajaran olahraga bermain Volley. Dan ketika aku bermain volley.
            ”Ke, loe mimisan..!” ujar Chika yang satu tim denganku.
            Aku terkejut tak menyadari hidungku mulai mengeluarkan darah segar. Dan Aku pun berlari menuju toilet untuk membersihkan serta meredahkan mimisan ini. Untuk sesaat aku hanya beristirahat di ruang Unit kesehatan Siswa. Hingga menunggu mobil jemputan Ayah. Yang telah diberitahukan oleh wali kelas akan mimisanku.
            Aku mulai mengeluh merasa sulit bernafas karena lubang hidung sebelah kiriku tersumbat. Melihat keadaanku Ayah mengira aku mengalami flu dan pilek. Akhirnya pulang dari Sekolah, kami langsung menuju dokter pribadi keluarga kami bernama Dr. Fendy.
            Aku hanya terduduk terdiam ketika dokter mulai memeriksa mulut dan mataku melalui senter kecil. Kemudian ayah mulai bertanya-tanya akan sakitku. Dokter hanya berkata ringan sambil membuat resep obat.
            ”Obat ini diminum secara teratur selama lima hari, bila tidak ada perubahaan saya akan buat surat pengantar ke Prof. Lukman di Rumah Sakit Darmais.” ujar Dr. Fendy.
Aku dan Ayah hanya tersenyum kecil melihat apa yang dikatakan dokter. Dugaan sementara untuk penyakitku adalah Sinus, dengan minum obat secara teratur dalam lima hari mungkin akan sembuh. Namun apa yang terjadi. Hari demi hari berlalu, ada yang aneh dengan diriku. Mataku tidak kunjung memutih dan terus memerah. Mengeluarkan air mata dan terasa perih. Hidungku terus mengeluarkan darah dalam beberapa kali sehari. Ayah mulai khwatir dan lubang hidung sebelah kiriku terasa mati rasa.
            Sesuai perintah Dr. Fendy bila dalam lima hari tidak ada perkembangan, Aku harus menuju rumah sakit rujukan. Aku sedikit terkejut dengan apa yang kulihat dan mulai merasakan ketakutan kecil. Memandang sebuah rumah sakit yang besar dan untuk pertama dalam hidupku, aku menginjakkan kaki di rumah sakit untuk bertemu dengan seorang professor. Prof. Lukman.
            Setelah bertemu Prof. Lukman, Ayah mulai memberikan surat pengantar yang dibuatkan oleh Dr.Fendy. Setelah membaca isi surat tersebut. Prof. Lukman mulai melakukan tindakan awal. Bagian dari kepalaku akan di ronsen dan ini adalah pengalaman pertama dalam hidupku menghadapi sebuah alat canggih dari kedokteran. Aku hanya berujar dalam hatiku, ada apa dengan diriku. Mengapa hanya sebuah flu, Aku harus melakukan berbagai pemeriksaan.
            Setelah hasil ronsen itu keluar dalam bentuk copy scenen, Prof. Lukman terdiam dan terlihat berkonsentrasi memperhatikan hasil ronsen tersebut. Prof. Lukman hanya memandangku sekilas lalu berkata padaku.
            ”Keke. Bisa kamu keluar sebentar. Saya ingin bicara dengan Ayah kamu sebentar. Pembicaraan orang dewasa!” jelas Prof. Lukman.
            ”Ok.. gak papa. Ayah, Keke keluar dulu ya..!” ujarku untuk pamit dan Aku hanya melihat Ayah masih bingung dengan permintaan Prof. Lukman padaku. Setelah itu keadaan menjadi sunyi dan Prof. Lukman mulai menghela nafas untuk memulai pembicaran dengan Ayah.
            ”Pak Jody..” panggil Prof. Lukman pada Ayahku.
            ”Iya Prof, ada apa ya! Kok anak saya dari kemarin mimisan dan katanya dia susah nafas? Apa hasil diagnosa copy scenennya Prof?” tanya Ayah.
            ”Mohon Pak Jody kuat mendengar semua ini !” jelas Prof. Lukman yang mulai membuat Ayah sedikit takut.
            ”Ada apa dengan putri saya Prof?” tanya Ayah.
            ”Putri Bapak terinfeksi penyakit Rabdomiosarkoma..!!”
            ”Hah.. rabdo...” ujar Ayah kesulitan mengulang.
            ”Penyakit ini secara luas dikatakan tergolong Kanker.!”
            ”Kanker......!?” Ayah terkejut.
            ”Benar Pak Jody. Putri anda terinfeksi penyakit Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak!”
            ”Saya tidak begitu mengerti penyakit ini, tapi bagaimana bisa?” tanya Ayah.
            ”Mohon Bapak tenangkan diri sebentar..!”
            ”Saya minta maaf untuk mengatakan kalau penyakit kanker pada putri anda adalah kanker paling ganas dalam tingkatan kanker. Kanker ini masuk stadium 3 dan perkembangannya hanya lima hari. Dan ini adalah kasus pertama dalam hidup saya melihat kejadian pada putri Anda. Biasanya kanker ini hanya menyerang anak di bawah usia 3 tahun atau usia lanjut.!”
            ”Professor jangan bercanda. Keke itu jarang sakit. Bahkan tidak ada tanda-tanda kalau dia kanker!” bela Ayah.
            Prof. Lukman hanya terdiam dan mencoba membuat Ayah yang panik untuk tenang sesaat.
            ”Pak Jody, inilah Rabdomiosarkoma, penyakit ini merupakan kanker ganas yang tidak memiliki tanda-tanda, lain dengan seperti kanker payudara ataupun kanker stadium ringan. Kanker ini berkembang sangat cepat dalam waktu lima hari. !” jelas Prof.Lukman dan Ayah mulai menangis.
            ”Tapi Prof, bagaimana bisa putri saya terserang kanker begitu menakutkan seperti ini!” tanya Ayah ulang.
            ”Pak Jody. Saat ini bukanlah saatnya untuk mencari penyebab kanker ini, namun adalah saatnya untuk mengobati kanker ini agar tidak berkembang secara luas pada pasien” jelas Prof . Lukman.
            Ayah hanya bisa menangis dan Profesor berusaha membuat Ayah tenang. Setelah kemudian keadaan mulai terkontrol. Profesor mulai menjelaskan prosedur yang harus dilakukan untuk menyembuhkan Aku serta melenyapkan kanker ini. Prof. Lukman mengambil copy scenen tengkorak wajahku kemudian mulai menjelaskan tindakan yang harus dilakukan.
            ”Jadi langkah yang harus dilakukan adalah mengangkat kanker ini melalui operasi. Dan operasi yang harus dilakukan adalah memotong tulang pipi, kemudian mata, dan setengah dari wajah pasien. Boleh dikatakan putri Bapak kemungkinan akan menjadi buta dan cacat” jelas Prof. Lukman.
            ”Astaga Prof, kanker itu hanya sekecil kuku, mengapa operasi harus sampai seperti itu?” tanya Ayah kaget.
            ”Pak Jody. Prosedur pengangkatan kanker secara medis adalah seperti ini, mengenai masalah sehabis operasi, bisa dengan melakukan operasi plastik pada wajah pasien!”
            ”Tapi Prof, anak saya adalah seorang wanita. Bagaimana dia menghadapi masa depan setelah operasi yang nyaris menghabiskan sebagian muka dia!”
            ”Tapi ini adalah keputusan yang terbaik. Bagaimanapun tidak ada pilihan lain untuk kanker Rabdomiosarkoma!!”
            ”Apakah ada jaminan setelah melakukan operasi putri saya akan sembuh!” tanya Ayah dan Prof. Lukman hanya terdiam.
            ”Saya tidak bisa menjamin semuanya, karena untuk kanker stadium rendah saja. Keberhasilan sembuh pada pasien sangat kecil. Apalagi dengan keadaan putri Bapak, yang saya bisa katakan adalah semua kehendak Tuhan.!”
            ”Berikan saya waktu untuk menjawab Prof. Saya harus melakukan diskusi masalah ini dengan keluarga. Dan memberikan keputusan!”jelas Ayah.
            ”Pak Jody, rembukkanlah masalah ini dengan cepat. Karena kanker ini berkembang sangat cepat!”
            Ayah hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Sedangkan Aku mulai bosan menunggu hasil pembicaraan Ayah dengan Prof. Lukman. Untungnya ada salah satu suster yang tidak bertugas dan dia bersedia menemani Aku berbicara. Suster yang sangat ramah itu terlihat baik dan ramah padaku. Dan saat Aku mulai berbicara dengan suster. Ayah muncul dengan wajah terlihat murung.
            ”Ayah.. lama banget sih!! Untung ada suster yang temeni Keke ngobrol!” jelasku.
            ”Maaf ya Keke, tadi ada hal penting yang mesti Ayah bicarakan sama Prof. Lukman.”jelas Ayah.
            Aku tak mengerti apa yang terjadi. Namun saat itu juga Ayah berlutut mengikutin tinggi badanku. Dia memandangku dengan wajahnya kemudian ia mulai memelukku. Aku merasa malu saat itu ketika suster mulai tersenyum melihat tingkah ayahku yang tak biasa.
            ”Aduh Ayah, malu neh, kenapa sih tiba-tiba begini!” ujarku.
            ”Aduh gak papa lagi Ke. Gak usah malu-malu gitu. Artinya Ayah Keke sayang sama Keke. Ya akan Pak!” tanya suster itu dan Ayah hanya terdiam tanpa bicara.
            Kemudian kami mulai kembali ke dalam mobil. Tidak ada canda apapun didalam mobil seperti biasanya. Ayah terlihat berbeda dari biasanya. Karena rasa penasaran Ayah hanya diam saja, Aku pun mulai bertanya.
            ”Ayah, apa sih kata Prof.Lukman tentang penyakit Keke!” tanyaku dan Ayah hanya tersenyum kecil dan berkata,
            ”Keke hanya sakit flu biasa. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Minum obat nanti juga sembuh, Keke tahan dulu ya.. !!” jelas ayah.
            Apakah ini sebuah pernyataan yang sesungguhnya. Aku mulai merasa ada yang tidak benar. Namun Aku tidak ingin berpikir apapun, karena sesungguhnya aku lebih tahu apa yang terjadi dalam tubuh ku. Rasa sakit pada hidungku mulai terasa menghambat pernafasanku. Namun Aku hanya bisa bertahan untuk tidak membuat diriku seolah sakit. Aku ingin buktikan kalau apa yang Ayah katakan adalah benar.
            Setelah tiba dirumah, Ayah menyuruhku untuk masuk ke kamar dan beristirahat. Kemudian Ayah juga masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Aku hanya berpikir untuk tidur dan beristirahat agar cepat sembuh. Tidak ada yang bisa Aku lakukan, karena Aku pun merasa lelah terhadap perjalanan dan aktifitas hari ini.
            Ayah merenung di kamarnya sambil menangis, entah sudah berapa banyak air mata yang ia habiskan. Ia berdoa pada Tuhan untuk memohon petunjuk terhadap pilihan yang harus ia lakukan padaku. Setelah merenung sekian lama Ayah membuat keputusan untuk memberitahukan Ibu, mereka jarang sekali berbicara dan untuk sekali ini akhirnya mereka bicara. Mendengar berita Aku terkena kanker, ibu panik dan segera menuju rumahku malam itu juga.
            Keluarga kami terlihat berkumpul bersama tanpa Aku ketahui. Mereka bicara lengkap dengan kedua kakakku. Namun hanya Aku seorang yang tetap di kamarku, tidak ada pilihan apapun dalam situasi yang cepat dan membutuhkan keputusan yang penting untuk masa depanku. Akhirnya Ayah dan keluarga kami memutuskan untuk mencoba pengobatan altenatif dan tradisional namun mereka juga mencoba untuk mencari informasi rumah sakit lain.

[3]
IBU, KAKAK ITU WAJAHNYA KENAPA?

            Menunggu waktu dimana kanker itu mulai berkembang, terjadi perubahan besar dalam wajahku. Aku mulai kehilangan rasa peka dan penciuman, wajahku semakin tak beraturan. Kanker itu mulai membesar seukuran bola tenis. Dan mata sebelah kiriku mulai tak bisa melihat. Kulit tipis yang berada di garis mataku mulai tertarik. Aku tak mengerti apa yang terjadi, namun Aku berusaha untuk tegar.
            Sobat, tahukah bagaimana perasaanku ketika semua orang mulai melihatku dengan aneh? Ya. Semua mulai berpikir dengan apa yang terjadi. Aku hanya bisa terdiam tanpa menjawab. Mungkin sahabatku ingin bertanya dengan ku apa yang terjadi. Namun mereka merasa sungkan. Mereka berusaha menerima keadaanku tanpa pernah mengeluh, mereka selalu ada disisiku. Itulah yang membuat Aku menjadi kuat dalam menjalankan aktifitasku. Aku bersekolah seperti biasa. Dan tanpa malu Aku masih bisa bercanda dengan sahabatku. Walau Aku hanya ada di kelas setiap jam istirahat.
Hal yang membuatku sedikit takut adalah ketika menghadapi Andi, kekasihku. Apa yang harus Aku lakukan dengan keadaan seperti ini. Aku mencoba menghindar darinya. Mungkin dia tahu apa yang terjadi padaku, namun karena Aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya, dia memaklumi. Dan akhirnya kami tidak bertemu untuk beberapa saat. Walau terkadang dia sering menatapku secara sembunyi.
Karena bosan dikelas. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin. Ayah mengingatkan Aku untuk tidak makan secara sembarangan. Makanan telah disiapkan sejak dari rumah. Namun Aku tidak sanggup untuk hanya menikmati sebuah hidangan bubur tanpa sedikitpun rasa. Asisten ayah yang menjagaku selalu mengawasi setiap gerakku. Aku mengerti apa yang Ayah lakukan untuk kebaikanku.
            Sobat, tahukah hatiku ketika suatu ketika seorang anak kecil melihat wajahku dan berkata pada ibunya, ”Ibu wajah kakak itu kenapa, kok seram sekali ya!?”
            Aku hanya terdiam dan mulai sadar apakah semua orang yang melihatku bertanya hal yang sama? Apakah selama ini mereka diam namun sesungguhnya ingin tau apa yang terjadi. Aku merasa sedih dan hatiku terasa bagaikan teriris sebuah pisau tajam. Namun Aku berusaha tegar. Aku berlari menuju toilet. Disana Aku menangis dan Aku mengurung diriku. Aku sedih dengan apa yang terjadi! Aku sungguh merasa malu dengan semua ini. Apa yang terjadi padaku, siapa yang bisa memberikan sebuah jawaban. Setelah merasa tenang. Aku masih melihat anak kecil itu bersama ibunya, dan kudekati sang Ibu lalu Aku mulai berusaha berbicara.
            ”Anak ibu lucu ya..”, pujiku dan Ibu itu mulai tersenyum dari wajah dinginnya.
            ”Wajah kamu kenapa nak? Maaf sebelumnya..!” tanya Ibu itu.
            ”Saya pun tidak tahu dengan apa yang terjadi. Saya belum mendapatkan jawaban dari Ayah!”
            ”Apakah kamu terserang tumor..!”
            ”Tumor...!!”
            Kata-kata itu mulai menghiasi hatiku, dan Aku mulai mengingat akan penyakit ini, penyakit yang pernah diberikan dalam pelajaran biologi. Aku terserang tumor. Dan itu benar, Aku terserang tumor. Tumor adalah penyakit pembengkakkan pada wajah dan aku adalah salah satu dari orang yang terjangkit penyakit tersebut.
            5 hari berlalu...
            Di setiap hariku. Aku mulai merasakan satu keanehan dalam wajahku, hidungku terasa mati rasa untuk bernafas. Wajahku membengkak bahkan hidung dan mata sebelah kiriku terlihat menghilang. Sebuah benjolan besar yang seukuran bola tenis mulai tertanam di wajahku mulai membesar. Bahkan Aku tidak sanggup untuk melihat sendiri wajahku di cermin.
            Aku mulai bertanya dalam hatiku, ada apa denganku? Siapakah yang bisa menjawab rasa sakitku ini? Ketika Aku mulai menangis dan malu karena wajahku. Aku memutuskan untuk tidak sekolah. Aku memilih mengurung diriku di kamar. Ayah memaklumi keputusanku. Hingga pada akhirnya Aku mulai menyadari satu penyakit yang ada dalam diriku bukan hanya tumor.
            Apakah tumor ini adalah penyakitku?
            Aku hanya bisa menangis dan marah pada Tuhan. Mengapa Aku mendapatkan penyakit ini, sedangkan setiap dokter yang Ayah bawa untukku selalu merahasiakan sesuatu hal padaku. Hingga akhirnya Aku mulai berontak untuk bertanya dan meminta penjelasan pada Ayah akan penyakitku ini.
            ”Ayah, Keke mohon beritahu apa yang terjadi. Keke sudah cukup besar untuk tahu apa yang terjadi. Jangan ada rahasia apapun!”ujarku pada Ayah.
            Dengan wajah sedih Ayah berkata padaku. Aku memang mengalami tumor. Namun masih bisa disembuhkan dan Ayah sedang berusaha mencari dokter yang cocok untukku agar tumor ini bisa lekas hilang dari wajahku. Mendengar penjelasan itu, Aku mulai sedikit tenang. Aku memang terkadang membaca dan melihat orang yang terserang penyakit tumor. Dan mereka bisa disembuhkan dan satu satunya cara adalah operasi. Dan yang Ayah inginkan adalah mencoba mencari pengobatan lain yang tidak memerlukan operasi. Dan hal itu mulai bisa kumengerti.
            Sobat, tahukah kamu apa yang kulakukan? Hampir semua informasi keberadaan orang pintar atau pengobatan tradisional kutemuin. Namun entah apa yang terjadi ketika Aku sampai ditempat itu, mereka hanya menyuruhku duduk kemudian kembali ke mobil dan kami pulang tanpa hasil. Seluruh pulau Jawa, Sumatra dan Bali telah kami lalui hanya untuk mencari pengobatan yang terbaik. Tidak ada hasil apapun dan wajahku mulai tak beraturan. Aku nyaris tidak bisa melihat secara normal. Bernafas pun Aku terasa sesak. Tidurpun tidak terasa nyaman. Rasa sakit yang menusuk dan emosi seolah meledak-ledak mengutuk semua ini.
            Tuhan, cobaan apa yang kau berikan padaku?
            Dua bulan berlalu sejak pencarian pengobatan tradisional yang kulalui. Tiba akhirnya di pencarian terakhir yang bisa kami lakukan. Sebuah informasi seorang Haji yang dapat melenyapkan segala penyakit kami datangin. Letaknya di sebuah Pesantren di Sukabumi. Perjalanan ini terasa melelahkan, entah harus kutahan berapa lama lagi rasa sakit ini, hingga akhirnya kami tiba ditempat itu sore menjelang Magrib.
Antrian panjang yang melelahkan hanya untuk bertemu pemilik pesantren itu dilalui Ayah, dan Aku hanya menunggu di mobil. Membaca komik dan tertidur hingga tak kusadari apa yang terjadi. Akhirnya, Ayah mendapatkan giliran setelah mengantri satu jam lamanya. Namun sepertinya jam prakter Pak Haji tersebut telah berakhir. Pak Haji itu sempat menolak ayahku karena kelelahan. Namun setelah memohon dengan berbagai cara, hati Pak Haji itu lunak. Dan dengan kebaikan hatinya beliau malah bersedia menemuiku langsung di mobil tempat Ayah memarkir.
Aku terbangun oleh panggilan suara Ayah. Kulihat Pak Haji itu memandangku secara tersentak kaget lalu berkata,
”Astaga Pak, anak Bapak ini bukan kena tumor, tapi kanker. Saya tidak bisa kalau sudah sampai kanker. Harusnya Bapak bawa ke ahlinya..!” teriak Pak Haji itu.
Sobat, tahukah kamu bertapa Aku terkejut dengan kata kata Pak Haji itu? Ayah yang melihat Pak Haji bicara secara terbuka padaku segera mengajak Pak Haji untuk masuk ke rumahnya. Dan Aku hanya terdiam dan bertanya dalam hatiku.
”Ya.. Tuhan.. Aku bukan terserang Tumor. Tapi, kanker. Mengapa Aku mengalami nasib seperti ini?” teriak batinku.
Air mataku mengalir dan rasa sedih mendalam merasuki seluruh ragaku. Selama ini Aku bukanlah terserang tumor. Namun Kanker. Hal yang kutahu akan penyakit ini! Penyakit mematikan! Penyakit menakutkan! Banyak hal yang kutahu akan penyakit ini namun tak pernah kuduga Aku pun harus mengalami duka ini.
Ayah kembali masuk ke mobil. Dia hanya memandangku dengan perasaan sedih. Aku menangis terisak menutupi wajahku dengan jaket tanpa berkata apapun. Ayah pun seolah mengerti dan dia hanya diam sepanjang perjalanan. Walau mencoba untuk mengajakku bicara atau pun sekedar mengudang tawaku. Namun tidak berhasil! Bukan itu yang kumau Ayah?
Bukan itu. Yang kumau adalah sebuah jawaban mengapa selama ini tidak Ayah jujur akan penyakitku ini!!.
Setiba di rumah Aku mengurung diriku, bahkan tidak ada seorangpun yang boleh mengangguku. Aku menangis, marah, kecewa dan benci terhadap semua ini, rasanya Aku ingin mati. Aku ingin tidak ada didunia ini lagi. Lenyapkan Aku dari semuanya? Aku ingin tidak ada yang melihatku. Terkunci dan tidak ada satu orang pun yang bisa membujukku untuk keluar dari kamarku.
Melihat keadaanku yang tidak stabil dan tidak ingin makan obat ataupun yang bisa membuat Aku bertambah buruk. Ayah mengundang satu orang yang tak kuduga, bahkan nyaris terlupa olehku.
Andi..
Dia datang padaku. Bahkan Aku tak percaya. Dia datang dengan membawa segelas air putih dan obat-obat yang harus kumakan.
Sejujurnya Aku malu bertemu dengannya. Hal yang kulakukan ketika melihatnya di sekolah adalah berlari. Namun saat ini dia datang padaku dengan senyum dan berkata,
”Keke. Aku tahu kamu marah terhadap keadaan! Tapi menyiksa diri seperti ini bukanlah Keke yang sesungguhnya! Keke yang sesungguhnya adalah orang yang ku cintai dan tabah. Keke yang ku cintai adalah putri yang selalu tersenyum dan riang dalam keadaan apapun!” ungkapnya.
Kata-kata itu meluluhkan hatiku. Aku tidak lagi menangis. Aku sadar hanya melakukan satu kebodohan yang membuat orang disekitarku merasa cemas. Tidak!! Aku harus kuat dan Aku harus bisa berjuang. Mereka semua menungguhku untuk kembali sehat. Aku adalah Keke yang kuat dan selalu berjuang dalam keadaan apapun. Sejak hari itu Aku mulai kembali menjadi diriku. Tidak ada lagi air mata yang harus kusimpan. Namun ku tanam untuk hari kebahagiaan.

[4]
MALAIKAT ITU APAKAH KAU TUHAN?

Ayah sungguh luar biasa, tidak ada kata pantang menyerah darinya untuk menyelamatkan hidupku. Suatu berita tentang kehebatan seorang Profesor yang sudah berpengalaman 20 tahun menghadapi kanker terdengar oleh Ayah. Dan Ayah pun berhasil menemukan Profesor yang bernama Prof. Hata. Atau Pak Hata.
Di hari pertama berkunjung ke tempat prakteknya, Pak Hata hanya menyarankan Ayah untuk membawaku padanya. Dan mereka pun berjanji di sebuah rumah sakit tempat Pak Hata akan praktek. Menyadari keadaanku yang tidak membaik. Akhirnya Ayah benar-benar membawaku padanya.
Pak Hata terlihat ramah pada jumpa pertamaku. Sobat, tahukah apa yang terjadi ketika Aku bertemu dengannya? Hatiku terasa senang. Orangnya hangat dan baik. Beliau meminta izin padaku untuk mengambil fotoku, dan Aku tidak keberatan untuk itu. Setelah itu proses ulang hal yang sama ketika Aku melakukan pemeriksaan terjadi. Kali ini hal yang lebih buruk terjadi. Pak Hata sempat tak percaya dengan apa yang terjadi padaku.
Dua puluh tahun ia meniliti dan mengobati kanker di Indonesia, namun kasusku ini adalah pertama dalam hidupnya bahkan di Indonesia. Tentunya hal itu tidak ia katakan padaku. Hal yang sama pun terjadi. Ketika Pak Hata memintaku untuk menunggu diluar sedangkan ia harus bicara dengan Ayah secara tertutup. Dan Aku menyadari bahwa ini adalah hal yang ingin mereka tutupin dari ku walau hasilnya tetap sama Aku adalah penderita kanker.
Di dalam ruangan praktek Pak Hata, terjadi pembicaran antara Ayah dan Pak Hata. Hal yang sama telah dijelaskan akan penyakitku. Namun yang membuat heran Pak Hata. Mengapa Aku sanggup bertahan selama dua bulan lamanya, sebab virus kanker ini selayaknya dalam lima hari telah dapat membunuh pasien. Namun untukku entah sudah berapa banyak kanker ini berkembang. Tahukah sobat? Besarnya kanker di wajahku sudah sebesar buah Kelapa. Bahkan untuk mengimbangi kepalaku terasa berat sekali.
”Hal yang terjadi pada putri Anda sungguh luar biasa. Bagaimana bisa Keke bisa bertahan bahkan Anda bilang sempat berkeliling mencari pengobatan hingga seluruh daerah!” jelas Pak Hata.
”Jadi, Dokter apa yang harus saya lakukan!” tanya Ayah.
”Pak, prosedurnya tetap sama. Operasi ini mengharuskan putri Anda kehilangan wajah yang telah bersarang kanker. Harus diangkat! Agar tidak terjadi perluasan dibagian lain!” jelas Pak Hata.
”Saya mohon Dok. Adakah cara lain untuk putri saya!! Sebab dia adalah putri satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak sanggup melihat dia dalam menatap masa depan tanpa wajah yang sempurna! Ujar ayah menangis.
”Saya mengerti Pak. Saya mengerti! Tapi walau pun ada cara lain saya tidak yakin ini bisa berhasil!”
”Apapun caranya selain operasi saya rela Pak. Saya tidak ingin hal yang buruk dari akibat semua ini adalah masa depan putri saya sebagai taruhan!!” jelas Ayah.
Pak Hata hanya diam sejenak dan kemudian mulai bicara pilihan lain.
”Kemotrapi.. mungkin cara ini bisa membuat Keke sembuh, namun saya tidak menjamin sama sekali. Saya akan berusaha!”
”Apa itu kemotrapi..?” tanya Ayah.
            ”Kemotrapi sejenis pemberian obat obat tertentu yang bisa membunuh pertumbuhan kanker. Dan ini adalah obat keras. Pada kasus putri Anda karena masih terlalu kecil, saya hanya takut adanya penolakan. !”
”Bagaimanapun cara ini bisa kita coba..?” tanya Ayah.
            ”Mungkin. Tapi tahapnya sekitar 6 kali. Semoga dalam 3 kali kemotrapi keadan mulai berhasil. Dan rasa sakit bila obat mulai bereaksi saya harap putri Anda bisa bisa bertahan!”
”Saya percaya Keke sanggup. Saya tahu, dia anak yang kuat ! Dia pasti bisa!!”
Pilihan yang telah disepakatin dan Aku hanya menerima. Aku tahu Ayah adalah orang yang bijaksana, keyakinan besar itu membuat Aku semangat dalam menjalani proses tersebut. Kemotrapi itu dijalankan selama 6 kali dan Aku harus dirawat di rumah sakit dalam bebarapa hari. Ini adalah pengalaman Aku pertama menginap di sebuah rumah sakit.
Namun Aku bahagia, disaat seperti ini, seluruh teman-temanku datang. Mereka datang untuk membuatku gembira dan kuat. Aku tidak lagi kesepian seperti ketika Aku harus berkeliling untuk mencari pengobatan altenatif. Seluruh teman yang kucintai datang memberikan semangat luar biasa dalam diriku.
Sobat, tahukah bagaimana Aku menghadapi kemotrapi itu? Aku merasa bagaikan makluk asing yang tiba di bumi. Di tempatkan disebuah ruangan kosong, dan seluruh suster hanya terlihat matanya, mereka menggunakan jas putih, mereka terlihat sibuk merakit obat-obat kimia yang akan dimasukan dalam tubuhku.
Dan kemotrapi itu dilakukan dengan suntikan pada lengan tanganku. Ketika jarum itu menyentuh tubuhku. Aku tertidur dan dalam mimpiku Aku bertemu dengan seorang Malaikat yang bermain denganku. Malaikat itu sungguh hangat dan membuatku nyaman. Kami bermain disebuah taman dan dia memberikan Aku sebuah bunga melati yang cantik. Dan setelah itu ia menghilang dan Aku terbangun. Kemotrapi pertama itu telah selesai dilakukan.
Reaksi kemotrapi itu membuat sehelai rambutku mulai berguguran. Dan hingga akhirnya nyaris diseluruh tubuhku tidak terdapat bulu halus. Aku menjadi botak tanpa sehelai rambut apapun. Reaksi obat ini sangat keras bahkan membakar jaringan lunak yang membuat diriku seolah bayi lahir dan tanpa helai rambut dimana pun.
Selain itu, Aku juga merasakan rasa dingin yang luar biasa ketika obat itu mulai bereaksi. Mungkin istilah yang tepat setelah itu Aku bagaikan terkurung dalam ruang kulkas dan merasakan kedinginan luar biasa padaku, Aku memohon untuk mematikan pedingin yang ada disekitarku. Pak Hata mengatakan ini hanya reaksi dari obat itu. Rasanya bagaikan di sebuah kutub Utara. Dan Aku harus bertahan untuk beberapa jam. Sobat, itu lah hal yang membuatku tak kuasa. Namun berkat orang-orang yang Aku cintai, rasa dingin itu seolah menjadi hangat. Mereka selalu ada disampingku. Mereka selalu memberikan karunia seperti malaikat yang datang dalam mimpiku.
4 hari berlalu..
Aku menjalani enam kali kemotrapi dan hasilnya sungguh sulit dipercaya. Bagian dari wajahku yang terserang kanker mulai mengecil. Dansetelah itu wajahku kembali menjadi normal. Aku bersuka cita atas apa yang terjadi, bahkan Pak Hata terlihat seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Satu kata yang ia ungkapkan adalah..
”Ini mukjizat Tuhan Keke, Tuhan sayang pada Keke!!”
Dan Aku percaya itu adalah kebenaran. Namun untuk memastikan kanker itu benar-benar lenyap. Pak Hata memutuskan untuk melakukan operasi kecil untuk mengangkat sedikit contoh kulitku. Dengan pemeriksaan labotarium. Mungkin kepastian akan penyakit itu lenyap, dapat dipastikan. Dan setelah hasil tes itu keluar. Aku sungguh dinyatakan telah sembuh dan bebas dari kanker. Suka cita besar keluarga, sahabat dan saudaraku berbondong-bondong hadir dan mengucapkan selamat atas kesembuhanku. Mereka melihat ini sebagai rencana Tuhan untukku. Aku pun hanya bisa berkata satu hal pada Tuhan.
”Tuhan.. Malaikat itu apakah engkau..!!”
Kemudian setelah penyataan kesembuhan Aku. Pak Hata menyarankan Aku untuk melakukan pelaseran untuk menghapus dan membuat kanker itu tidak kembali bersarang. Percayakah kamu sahabat. Aku nyaris sekali akrab dengan seluruh suster dan pengurus rumah sakit karena 30 hari lamanya Aku selalu datang untuk melakukan pelaseran dan setelah itu Aku dapat kembali hidup normal menjadi diriku.
Menyambut kebebasan ku. Ayah melakukan selamatan dirumahku. Seluruh keluarga besar Aku dan sahabat terbaik datang padaku. Tak lupa Pak Hata hadir dalam acara tersebut. Pak Hata mengatakan satu hal yang membuatnya bangga. Ini adalah keberhasilan luar biasa dalam ilmu kedokteran Indonesia. Bahkan kasusku dijadikan sebuah seminar, yang dihadirin oleh dokter-dokter dari Amerika, Kanada dan Jepang serta beberapa negara maju untuk belajar dari kasusku.
Apakah itu membuatku bahagia? Sobat, Aku tidak ingin ada lagi hal yang sama terjadi di dunia ini. Cukup hanya Aku yang merasakan hal ini. Aku bahagia karena bisa kembali dari sebuah cobaan berat. Walau keadaan telah berbeda namun hal itu tidak akan membuat Aku lupa akan kejadian masa lalu.



[5]
HARI INDAH ITU TELAH DATANG

Hari indah dan harapan yang Aku nanti akhirnya telah datang. Doaku selama ini telah didengarkan oleh Tuhan. Kesabaran dan keihklasan Aku menerima semua cobaan ini telah terbayar dengan kesembuhan. Kini, Aku bisa melakukan apapun untuk hidupku yang telah hilang. Aku ingin membalas segala rasa sedih yang kualami dengan keceriaan.
            Kebahagian yang tak ternilai dengan apapun adalah kesembuhanku. Teman-temanku bersuka cita memberikan ucapan selamat. Senyuman tiada ada habisnya. Sobat, hari ini Aku melihat cermin di kamarku, kupandangi wajahku, entah mengapa air mata mengalir dalam pipiku, Aku berharap semua ini bukan mimpi. Dan semua ini nyata dalam menyertai hidupku.
Ayah pernah berkata padaku untuk selalu ingat satu hal dalam hidup adalah Sejarah. Belajarlah dari sebuah sejarah untuk melihat masa depan. Sejarah akan membuat kamu menjadi lebih dewasa dan lebih kuat dari apapun dan kini kuyakinin itu semua adalah benar.
Aku mulai kembali sekolah, mulai kembali untuk belajar. Mulai kembali untuk berkumpul bersama teman-temanku. Mulai kembali bersama bagian masa laluku yang telah hilang. Hal pertama yang kulakukan ketika Aku kembali ke bangku sekolahku. Kuletakkan tanganku dan kusentuh dengan jariku. Rasa meja coklat ini nyaris telah kulupakan. Sahabatku hanya tersenyum padaku dan berkata,
”Welcome back, Keke!!”
Pulang dari sekolah kami pun meluncur ke Mall. Kami mulai kembali seperti semula. Kehilangan mahkota rambutku tidak membuat Aku malu, Aku mulai berjanji pada diriku untuk tidak malu akan masa lalu. Ayah menyarankan Aku mengunakan wig atau rambut palsu. Pada awalnya Aku menerima, namun Aku mulai merasa ada yang aneh, tidak nyaman. Seperti mengunakan sebuah helm di atas kepala. Lalu kuputusakan meminjam topi dari kakakku, dan ternyata dengan begini penampilanku lebih terlihat macho.
Kami sempat berfoto ria untuk merayakan kebahagian kami. Dan sepulang dari Mall, Ayah memberikan sebuah kado istemewa untuk gank kami. Ayah akan mengajak kami berjalan-jalan di villa kami di dekat puncak. Dan semua teman-temanku dapat berpesta bersama untuk itu. Hatiku bahagia, kami mulai membayangkan keindahan dan kesenangan kami. Kami mengadakan barbeque di halaman vila kami. Tentu saja Aku mengundang orang yang telah memberikan sebuah kenyamanan dalam hidupku. Andi.
Andi telah berjasa membesarkan hatiku untuk tabah dan kuat dalam menghadapi kanker. Di malam itu, kubuatkan sebuah ikan bakar menu khasku. Entah apa dia menyukai. Walau terlihat gosong, tapi dia memakannya. Dan mengucapkan satu kata yang membuat Aku bahagia..
”Keke, terima kasih ya. Aku sayang kamu..!!” ujarnya.
Kata-kata itu seolah membuatku terasa bagaikan dalam sebuah dongeng putri kerajaan. Aku berdoa semoga hari ini dan selamanya kata-kata itu selalu ada untukku. Sobat, malam itu kami merenung bersama di bawah bulan dan bintang. Dan kami berbincang dan bercengkrama akan satu perjanjian untuk kami.
”Kami ingin bersama dan suka dan duka. Kami ingin berkumpul hingga salah satu kami menjadi dewasa. Dan memiliki anak dan cucu, kami ingin selamanya saling mengenal dan bersama sama hingga kami menjadi kakek dan nenek.”
Apakah itu mimpi yang mustahil? Apakah itu mimpi sejati yang boleh kamu mimpikan?
4 bulan berlalu..
Suatu ketika Aku melihat salah satu dari kami mulai berkurang. Salah satu temanku mulai jarang berkumpul dengan kami. Dan kami merasa cemas akan itu. Fahda, salah satu sohib akrab kami. Ia kini mulai jarang berkumpul dengan kami. Kami pun mulai mencari apa yang terjadi dengan Fahda. Dan sesuai perjanjian dalam genk kami untuk berkumpul di rumahku setiap pulang sekolah.
Atas bujukan dan informasi, Fahda akhirnya muncul di dalam rumahku. Dia menangis pilu karena mengalami masalah dalam kehidupan pribadinya. Aku yang mendengarkan semua keluh kesahnya, bertanya dalam hati? Apakah kebahagian yang keluargaku dapatkan masih lebih baik dari apa yang bisa kurasa dan kudengarkan.
Fahda masih beruntung memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Hanya karena merasa apa yang ia inginkan dilarang oleh kedua orang tuanya. Fahda marah dan memutuskan untuk melakukan embargo terhadap ibunya. Sosok ibu dalam hidupku nyaris telah hilang ketika perceraian dengan ayahku. Ibu telah memiliki keluarganya yang baru. Pada awalnya Aku marah dengan semua ini. Aku marah dengan perpisahan. Aku marah karena tidak ada kata ibu dalam hidupku. Tapi bisakah Aku marah akan keputusan orang lain?
Ibu mungkin memiliki pandangan dan keputusan terbaik dalam menghadapi perceraian dengan ayahku. Ketika Aku dihadapkan untuk memilih untuk ikut dengan siapa? Suatu keputusan yang berat. Aku ingin ikut dengan kedua orang tuaku. Namun satu keputusan yang sulit membuatku merasa sedih. Mereka telah bercerai dan tidak mungkin bersama.
Ibu maafkan mengapa kupilih Ayah dalam hidupku? Bukan karena Aku membenci dan marah padamu? Namun satu hal dalam hidupku yang membuat Aku menjadi dewasa. Perpisahan adalah hal yang tidak diinginkan oleh siapapun! Termasuk oleh kau Ibu. Namun oleh siapa perpisahan itu terjadi! Adalah pilihan dimana Aku merasa dewasa. Aku tidak ingin
merepotkan Ibu dalam hidup ibu. Ibu memiliki kebahagian lain dalam hidup Ibu, dan biarkan Aku membagi kasih dengan Ayah. Menutupi kebahagian yang telah hilang dalam hidup Ayah.
Hanya satu kata yang bisa kusampaikan untuk sahabatku Fahda. Terkadang kita hanya akan menjadi anak kecil dalam mata orang tua kita. Namun percayalah keputusan apapun yang mereka berikan untuk kita. Itu adalah hal yang terbaik dari apapun. Karena mereka sebagai orang tua telah menentukan jalan dan arah dimana kita akan menjadi hidup lebih baik. Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa di dunia ini.

[6]
UJIAN TENGAH SEMESTER TELAH TIBA.

Pak Syamsuri, Wali kelas kami. Telah memberitahukan persiapan kami untuk menghadapi ujian pertengahan semester, kelas kami diharapkan untuk dapat menjadi yang terbaik. Memang selama beberapa angkatan kelas kami selalu menjadi jawara diantara kelas lainnya. Kami masih memiliki beberapa bulan untuk menghadapi ujian tersebut.
Teman-temanku mulai sibuk menyiapkan belajar kelompok dirumahku, kami telah berjanji selain bukan hanya untuk kumpul-kumpul bergosip tapi kami akan belajar bersama, agar target kami mendapatkan sekolah menengah umum di kelas yang sama dan tidak terpisahkan dapat terjadi. Sebab bila ada saja satu diantara kami mendapatkan nilai kurang, maka kami akan terpisah. Kami tidak ingin hal itu terjadi.
Sobat, ketika kami mulai sering belajar berkelompok. Kepalaku sering merasakan sakit sebelah kanan. Aku tidak berpikir itu adalah hal yang serius, dan hanya kudiamkan untuk sesaat dan berharap agar lekas sembuh. Namun hari demi hari sakit itu semakin menjadi parah. Mata sebelah kananku terasa sakit. Bahkan untuk melihatpun Aku mulai merasakan sakit. Aku mulai mengeluh pada ayah. Dan ayah mulai waspada, beliau takut sesuatu kembali terjadi padaku.
Tanpa pikir panjang, Ayah segera membawaku ke Pak Hata. Orang yang telah menyelamatkanku dari kanker. Beliau cukup terkejut dengan kedatanganku. Setelah Aku menyapanya, dan kami berbicara akan keluhan pada mataku. Beliau mulai melakukan pemeriksaan melalui tahap yang sama ketika Aku mulai mengeluh ada yang aneh dengan pernafasanku di kala menjelang vonis kanker.
Aku mulai takut akan masa lalu itu terulang! Aku berdoa sepanjang pemeriksaan tidak terjadi apa-apa dengan diriku. Hasil ronsen itu berhasil dipetakan dalam copy scenen. Pak Hata sempat memintaku dan Ayah untuk memberikan waktu beberapa saat dia meneliti hasilnya. Dan Aku pun bersama Ayah pergi ke kantin di rumah sakit untuk mengisi perut kami yang lapar.
Dikala Aku dan Ayah sedang menikmati soto ayam. Ayah mendapatkan telepon dari Pak Hata, untuk menemuinya. Ayah mulai curiga sesuatu terjadi padaku. Dengan santai ayah berkata padaku.
”Keke, Ayah ada urusan bentar ya mau ke ruangan Pak Hata. Kamu makan sendiri saja, nanti Ayah kalau sudah selesai! Kembali lagi. Keke jangan kemana-mana, ok!” perintah Ayah.
Aku hanya terdiam dan melihat Ayah berjalan dengan cepat menuju ruangan Pak Hata. Dalam hatiku kecilku berkata,
”Sesuatu terjadi padaku. Dan Aku dapat merasakan sesuatu terjadi”
Setiba di ruangan Pak Hata. Ayah dipersilakan duduk untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Hata, tentang hasil copy scenen dan dianogsanya.
”Pak Jody. Mohon maaf sebelumnya bila lama”
            ”Ok gak papa Pak. Tadi lagi makan sama Keke, dikantin. Ada apa yang dengan Keke? Gimana dengan hasil ronsennya?”
Prof. Hata terdiam sejenak kemudian mengajak Ayah untuk memperhatikan hasil ronsen dari kepalaku.
”Pak Jody. Sesungguhnya hal ini sulit dipercaya. Namun, kanker yang pernah ada di bagian hidung Keke. Kini telah kembali dan berpindah dan bersarang di bagian mata pelipis kanan Keke.!!”
“Astaga, bagaimana bisa Prof???? Dulu dikatakan telah lenyap?!” Ayah nampak terkejut.
“Pak Jody, mohon Bapak tenangkan diri Bapak. Hal seperti ini sulit untuk dijelaskan secara ilmu kedokteran. Inilah kanker, hingga saat ini tidak ada ilmu kedokteran yang bisa mencegah munculnya kanker pada manusia!”
”Saya tidak tahu harus bilang apa terhadap Keke. Mungkin dia akan shock mendengar hal ini!” kata Ayah.
”Pak. Saya percaya Keke anak yang kuat dalam menghadapi masalah ini. Jadi Bapak tidak perlu mencemaskan. Walau dia masih berusia 14 tahun namun dia itu sungguh luar biasa!”ujar Prof. Hata.
”Saya masih sulit percaya ini Pak. Namun saya pasrahkan pada Tuhan. Lalu tindakan apa yang harus kita lakukan sekarang?”
”Kanker ini masih sama berjenis Rabdomiosarkoma, berkembang secara cepat dalam lima hari. Namun saya hanya takut sebuah penyakit yang telah tumbuh secara dua kali akan memiliki daya tahan yang lebih baik dari sebelumnya?”
”Maksud Prof..?” tanya Ayah.
            ”Kita coba lakukan hal yang sama ketika dulu dengan kemotrapi. Namun semoga ini berhasil!!” persimis dari Prof. Hata.
Rasa bosan menunggu Ayah telalu lama. Aku mulai mencoba mencari Ayah. Dari apa yang aku dengarkan dari percakapan, aku bisa menebak dimana Ayah sekarang. Aku mulai menuju ruangan Pak Hata. Ketika aku mulai tiba di depan pintu yang membukaku menuju ruangan Pak Hata. Aku mulai mendengarkan percakapan yang terjadi didalam. Langkah kakiku tertahan ketika mendengarkan pembicaraan Ayah dan dan Pak Hata.
Aku mulai mendengarkan suara Ayah yang sedang menangis. Dan Pak Hata yang mencoba untuk menenangkan Ayah. Dan satu kata yang kudengar dari Ayah secara keras terdengar.
”Ya Tuhan kenapa harus Keke yang menerima semua ini, dia masih terlalu kecil untuk menghadapi cobaan KANKER, untuk kedua kalinya!”
KANKER.....
Satu kata yang Aku takutkan itu terdengar jelas di hadapanku dan Aku merasa tubuh ini terasa dingin. Nafasku terasa berat, kakiku terasa lemas.
Aku mulai sadar apa yang terjadi sekarang. Kanker itu telah kembali dalam hidupku. Dan dia tidak pergi dalam hidupku. Tuhan, cobaan apalagi ini?

[7]
TUHAN, BOLEHKAH RAMBUTKU TETAP ADA?

Aku berusaha berlari kembali ke kantin dimana Ayah melarangku untuk pergi kemanapun. Aku hanya duduk terdiam dan lemas. Aku tahu mungkin Ayah tidak akan berkata jujur tentang kanker ini dan Aku sadar apa yang telah terjadi pada bagian hidupku yang menakutkan akan kembali. Aku menangis dan mengusap air mataku dengan tisue. Dan merenung hingga Ayah datang padaku.
Beberapa saat kemudian.
Ayah mulai kembali padaku. Dia berusaha berpikiran jernih dan tidak terjadi apa-apa. Aku hanya menatap matanya dengan harapan. Apa yang Aku dengarkan itu hanya bohong. Ayah duduk dan terdiam menatapku. Dia seperti curiga dengan mataku yang basah.
”Keke.. Kamu nangis..?” tanya Ayah.
            ”Gak kok.. Cuma mata Keke perih, jadi berair..!”
            ”Oh..Ok.. Gimana sudah kenyang. Bisa kita pulang..!!” ajak Ayah.
            ”Oh.. Ya.. Aku sudah kenyang. Ayah, apa kata Pak Hata!!” Aku terdiam.
            ”Oh...kata Pak Hata..!!” Ayah ikut terdiam. Aku menunggu jawaban sesungguhnya dari Ayah..
”Keke.. Ayah tidak mungkin bohong kepada Keke. Keke sudah besar untuk mendapatkan apa yang harusnya Keke ketahui.. maafkan Ayah Keke.. Kanker.. ” ujar Ayah terhenti dan Aku mulai menarik nafasku berusaha tegar..
”Kanker rhabdomyosarcoma itu.. tumbuh lagi dan berpindah ke bagian mata Keke sebelah kanan..!” ujar Ayah terlihat tegang untuk mengatakan padaku dan Aku hanya berusaha ikut tenang..
”Tapi..tapi.. Keke tidak perlu takut..!” ujar Ayah.
”Ayah dan Pak Hata sudah rembukin pengobatan yang terbaik..!!”
            ”Keke hanya butuh bersabar dan Ayah janji tidak akan... Tidak akan lama..!” ujar Ayah terlihat panik..
            ”Keke, jangan takut.. Pak Hata bilang semua akan baik-baik saja.. !!”
            Dan Aku mulai mendengarkan semua perkataan Ayah. Hingga akhirnya Aku sadar ini adalah nyata. Kanker itu telah kembali. Dan satu hal yang kini terpikirkan olehku adalah...berusaha tegar dan menerima.
”Ayah...!” ujarku yang membuat Ayah terdiam. “Tidak apa.. Kalau Tuhan maunya Keke menjalanin cobaan ini, Keke siap!” ujarku dengan wajah tersenyum.               
            Seketika Ayah menitikan air mata dihadapanku. Dan berulang-ulang dia memelukku sambil mengucapkan kata maaf padaku dan Aku merasakan sebuah kasih sayang dari Ayah yang luar biasa membuat Aku menjadi tegar terhadap cobaan ini. Aku hanya bisa berkata satu hal.
”Ayah jangan meminta maaf, karena Keke telah ikhlas menerima semua cobaan ini. Keke aja kuat. Ayah harus kuat dan kita sama sama hadapin semua ini sebagai kasih sayang Tuhan sama Keke..!!”
Hasil ronsen dari Prof. Hata telah menemukan segumpal sel kanker berukuran kuku jari. Dan hal yang pertama harus aku lakukan adalah melakukan proses yang sama ketika dahulu, namun ada satu masalah dalam proses laser. Pihak rumah sakit menolak untuk memberikan sinar laser karena aku baru saja melakukan kurang lebih dari 5 bulan lalu, mereka takut terjadi sesuatu dalam tubuhku. Karena sesuai prosedur dan mengingat usiaku. Harus dilakukan setelah 6 bulan kedepan.
Tapi Ayah tidak ingin mengulur waktu selama itu. Kanker ini akan bisa merusak bagian mataku dan akhirnya Aku menjadi buta. Dengan berbagai perjuangan untuk menyakinkan pihak rumah sakit. Akhirnya menuaikan sebuah hasil ketika Ayah menyebutkan beberapa nama pejabat daerah. Boleh dikatakan gertakan petinggi. Namun hal itu dirahasiakan padaku tanpa sadar Aku mendengar percakapan Ayah.
Sesaat sebelum Aku mulai melakukan proses kemotrapi yang bisa berlangsung lebih dari 6 kali untuk membunuh sel kanker itu. Aku kedatangan seseorang nan jauh di kampung sana. Kakek dan Nenek. Sudah lama sejak lebaran tahun lalu kami tidak bertemu. Ayah merahasiakan kanker pertamaku dari mereka namun untuk kedua kalinya Ayah akhirnya bicara.
Kakek dan Nenek masuk ke dalam ruanganku dan Nenek nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku.
”Apa yang terjadi pada cucuku. Mengapa bisa seperti ini. Ya Tuhan, Keke masih terlalu kecil untuk menerima semua ini!!” isak tangis Nenek di sampingku melihat wajahku telihat membengkak dan jauh dari kenangannya.
Air mata dan rasa iba terhadap apa yang terjadi padaku. Membuat Akumerasa terbawa dalam kesedihan. Aku pun mulai sadar. Apa yang terjadi padaku. Telah membuat semua orang yang berada disekitarku menjadi sedih.
Aku tidak ingin mereka terlihat sedih. Karena itu menjadi beban untukku. Aku ingin semua apa adanya. Seperti sedia kala ketika Aku sehat. Aku pun mencoba menghibur Nenek dengan berkata.
”Nenek.. Keke gak papa. Jangan sedih dan nangis dong. Keke sehat kok.. Jangan takut ya.. Keke pasti sembuh.. ”
Setidaknya kata-kataku ini dapat menghibur mereka dan diriku, walau dalam hatiku ada rasa takut ketika harus menghadapi kemotrapi. Setelah semua menjadi lebih tenang. Setelah semua telah siap untuk menerima keadaan. Kini rasa takut muncul dalam hatiku. Aku ingin bicara dengan Ayah.
Ingin berteriak rasa takutku..
”Ayah, kalau kemotrapi lagi, Keke nanti jadi gundul lagi dong!” tanyaku pada Ayah.
”Keke.. Mengapa gundul membuat Keke takut.!” tanya Ayah.
            ”Ehm.. Keke gak bisa jawab tapi Keke takut saja..!”
            ”Keke.. disini gak ada yang mau Keke gundul. Ayah dan Pak Hata juga gak mau. Tapi ini Tuhan yang mau Keke. Keke jangan takut gundul setelah sembuh rambut Keke akan tumbuh lagi kan. Walau lama tapi itu kan ujian Tuhan agar Keke sabar toh. Di mata Tuhan, Keke mau gundul atau tidak. Keke tetep anak yang cantik!!” jelas Ayah.
”Keke tetep anak Tuhan yang cantik, Ayah?” tanyaku
            ”Bukan hanya Tuhan. Keke juga cantik bagi Ayah dengan atau tanpa rambut”
”Terima kasih, Ayah!! Sekarang Keke siap hadapin kemotrapi itu!”
            ”Ayo berjuang, kamu bisa Keke!!”
            ”Iya Keke bisa!!”
            Kata-kata Ayah setidaknya membuat Aku lebih kuat dari sebelumnya. Di mata Tuhan. Manusia hanya lah cantik dalam hatinya, bukan dari rupanya. Kecantikan itu tidak abadi. Pada akhirnya kita tidak akan meninggalkan apapun ketika kita menghadap padanya. Aku belajar satu hal dalam semua ini hingga Aku menjadi kuat dalam menghadapi cobaanya.
Aku mulai tertidur ketika proses kemotrapi itu berlangsung. Wajahku telah membengkak. Bahkan Aku tidak bisa melihat dengan jelas disebelah kanan. Aku telah pasrahkan semuanya pada Tuhan. Berharap setelah proses ini semua kembali seperti semula.
Ketika jarum itu mulai menusuk bagian lengan kananku. Walah Aku dalam keadaan terbius. Namun bisa kurasakan dengan keras dingin yang luar biasa dan membuat tubuhku berguncang menahan rasa itu.
Tanganku bergemetar. Tubuhku bergerak tak kuasa menahan rasa dingin itu. Rasa dingin itu terbawa hingga Aku tersadar kemudian. Hal pertama yang Aku lakukan ketika Aku tersadar adalah mengatakan rasa dingin itu. Aku seperti berada di dalam daerah kutub utara. Tubuhku terus mengigil dan kesebutkan satu kata pada Ayah.
”Ayah. Keke kedinginan. Keke kedinginan!”ucapku menggigil, dan sehelai demi sehelai rambutku mulai rontok. Terjatuh di balik bantal dikepalaku. Air mataku tertitih. Dan aku menatap ayahku, Ayah berusaha membuatku tenang.
2 jam berlalu.. Rasa dingin itu perlahan telah hilang. Dan mulai lebih baik.           
Sobat, tahukah kamu seluruh bagian tubuhku nyaris membiru akibat luka bekas suntikan kemotrapi? Luka itu seperti sebuah memar. Dan Aku hanya bisa melihat satu demi persatu dari tubuhku menyisahkan bekas luka.
Namun luka itu terasa hilang ketika semua sahabatku mulai datang. Mereka tidak pernah jauh dariku. Mereka datang untuk memberikan semangat padaku. Bahkan tidak sedetikpun Aku merasa kehilangan dari mereka. Tidak sedetikpun Aku merasa kesepian. Mereka selalu ada di sisiku. Orang-orang yang Aku sayangin. Selalu ada. Selalu memberikan doa untukku. Kekuatan dari doa mereka membuat Aku terus bersemangat menghadapi proses
kemotrapi ke empat.
Kemotrapi keempat mulai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walau kanker itu mulai mengecil. Namun tubuhku mulai menolak. Tidak ada tempat untuk jarum itu. Pak Hata mulai mewaspadai keadaan tersebut. Tubuhku  mulai berontak terhadap zat-zat kimia yang disatukan dalam jarum suntik itu. Bila terus dipaksakan. Kanker itu akan menjadi kebal. Tidak ada pilihan lain. bila sisa dari kemotrapi itu tidak dilakukan. Kanker itu malah akan kembali membesar. Satu keputusan yang cukup berat dilakukan Pak Hata. Beliau memasukkan seluruh obat kimia tersebuh melalui sebuah selang kecil.
            Kemudian selang kecil itu dimasukan kedalam tubuhku melalui luban hidungku. Dan cairan itu dimasukan langsung kedalam jantung dan paruparuku. Aku menahan rasa sakit luar biasa . Aku bertahan hingga selang itu dikeluarkan dalam tubuhku. Walaupun Aku terbius. Aku bisa merasakan ketika selang kecil itu mulai berjalan masuk perlahan kedalam tubuhku. Proses itu berlangsung hingga kemotrapi ke 6 dan berakhir.
Aku mulai merasa senang karena kemotrapi itu telah berakhir dan wajahku mulai kembali menjadi normal. Namun tidak pada hasil ronsen setelah kemotrapi tersebut. Kanker itu tetap ada dalam tubuhku. Kanker itu mulai anti terhadap zat kimia. Kanker itu memang mengecil. Namun kanker itu akan kembali membesar. Dan hal yang harus di lakukan selanjutnya adalah melakukan proses laser.
Proses laser itu juga tidak sebentar. Nyaris di lakukan lebih dari 15 kali banyaknya. Namun tetap saja tidak berhasil. Kanker itu tetap ada. Dan Pak Hata mulai putus asa untuk kanker itu. Dengan wajah sedih beliau mengaku menyerah. Dan hal itu iya katakan di hadapanku..
”Keke., kamu sudah besar, dan kamu sudah saya tanganin lebih dari 2 tahun lamanya. Namun saya jujur saja. Saya tidak bisa melenyapkan kanker itu seperti dulu. Ini sulit..saya minta maaf sebesar besarnya.. saya menyerah.. namun saya akan mencoba membantu kamu untuk sebisa saya..!!”
Sobat, tahukah apa yang terpikir olehku ketika Pak Hata mulai berkata demikian?. Aku mulai berkecil hati dan putus asa. Aku tidak menjawab apapun selain tersenyum kecil pada Pak Hata. Mungkin hal itu telah ia katakan pada Ayah. Dan entah bertapa hancur dan kecewanya Ayah.
Namun Aku tidak ingin semua menjadi lebih buruk. Aku sadar. Ini adalah ujian untukku. Bila Aku merasa sedih dan takut. Bagaimanakah dengan Ayah? Teman-temanku? Perjuangan mereka? Aku sungguh tidak bisa melukiskan keadaanku saat itu selain hanya tersenyum. Hanya sebuah senyuman.. senyuman kecil diantara rasa takut dan pasrah.
Setelah Pak Hata menyerah dan kasusku. Ayah tidak begitu saja putus asa. Ayah tetap ingin mencari dokter terbaik. Bahkan beliau membawa semua berkas ku ke Singapore. Disana Ayah bertemu dengan seorang dokter ahli.
Setelah melihat kondisiku. Dan hasil dari diagnosa dokter sebelumnya, dokter itu mengaku tidak terlalu optimis. Namun akan mencoba menyelamatkan Aku. Sedangkan Aku mulai menjalankan pengobatan dirumah. Dengan obat yang diberikan Pak Hata. Aku bisa menahan pertumbuhan kankerku selama mungkin.
            Suatu ketika Ayah datang ke kamarku untuk berbicara denganku. Ayah memberitahuku tentang dokter Singapore yang ia temui. Dan mengajakku untuk berdiskusi tentang pengobatan di Singapore.
”Keke gimana mau di rawat di Singapore saja?” tanya Ayah.
            ”Ayah.. Singapore .. kalau Keke di Singapore.. Keke gak bisa ketemu dengan teman teman lagi dong!”ujarku.
            ”Ayah ngerti.. tapi ini satu satunya jalan. Kita harus coba, walau kamu akan lama di Singapore untuk proses pengobatan. Ini adalah jalan terbaik!”
            ”Ayah.. bolehkah Keke menolak!!” ujarku dan Ayah hanya terdiam... sedikit kecewa dengan jawabanku.
”Bukan Keke tidak ingin sembuh Ayah.. Keke hanya tidak ingin jauh dari siapapun saat ini... termasuk Ayah.. Keke ga mau ninggalin semuanya yang Keke miliki disini. Keke gak mau Ayah!!”
            ”Ayah ngerti keke..!!”
            ”Keke sedih.. kenapa Keke harus terima cobaan seperti ini.. kenapa Tuhan gak adil sama Keke.. Keke sedih Ayah!” ujarku sambil menangis.
”Keke, jangan ngomong begitu.. Jangan Keke!” ujar Ayah menenangakanku, ”Keke harus kuat.. ini ujian dan ini cobaan untuk kita semua!!”
            ”Tapi kenapa Keke... Kenapa Ayah... Kenapa mesti Keke!!” teriakku menangis, dan Ayah hanya terdiam membiarkan Aku tenang dan menangis di pelukknya. Hingga Aku mulai terkendali Ayah mulai bercerita satu hal padaku..
”Keke, di dunia ini apa yang belum Keke rasakan?” tanya Ayah dan Aku hanya terdiam.
            ”Keke ingin naik mobil mewah apapun kita sudah pernah rasakan!!”
            Keke ingin ke luar negeri dari Eropa sampai Amerika, kita pernah rasakan juga. Keke ingin makan enak, semua sudah kita rasakan!!” jelas Ayah.
”Maafin Ayah kalau harus ngomong begini sama Keke. Ayah mencoba terbuka dan ingin Keke berusaha tenang. Andai saja Tuhan benar ingin Keke pergi dari dunia ini, kenapa Keke harus takut?”
            ”Apa yang Keke ingin rasakan di dunia sekarang telah Keke rasakan. Mengapa harus marah pada Tuhan. Tuhan sangat sayang Keke. Sehingga Keke hidup bahagia dan dapat merasakan yang belum tentu orang bisa rasakan. Mungkin kata-kata Ayah sedikit kasar. Tapi Ayah ingin Keke menangkap maksud Ayah. Hidup di dunia ini hanya sementara. Termasuk
Ayah juga. Tapi kita harus bersyukur bisa menikmatin indahnya dunia. Mau setahun, mau tiga hari, kenapa kita gak siap di panggil Tuhan. Kita sudah rasakan semua ya kan?”
            sobat, Tahukah apa yang kurasakan ketika Ayah berkata demikian?
Aku mulai merenung satu hal dan itu benar. Tuhan telah memberikan semua apa yang belum tentu bisa orang lain rasakan seperti Aku. Mengapa Aku tidak siap dan menyalahkan dia dalam semua musibah ini. Aku terlalu egois untuk itu. Ya Tuhan, indahnya hidup yang Aku rasakan ini adalah semua pemberian darimu. Tidak selayaknya Aku marah bila kau inginkan Aku bersamamu.
Dan Aku mulai tenang dan mengerti maksud Ayah. Aku mulai mengerti semuanya. Dan menerima apa adanya. Malam itu, kulewati sebuah pengobatan kembali. Dan pengobatan itu hal yang sama terjadi ketika Aku mulai dikemotrapi. Namun setidaknya rasa sakit dingin itu berkurang karena jarum suntik itu di suntikan oleh ayahku. Kami berdoa bersama untuk menerima jalannya. Apapun yang terjadi di dunia ini. Aku telah siap kembali padamu Tuhanku..





[8]
TUHAN, BIARKAN CINTA ITU TERPENDAM DALAM HATIKU

Setelah merenung apa yang dikatakan ayah pada malam itu. Aku mulai berserah diri pada Tuhan untuk menjalanin semua hidupku. Aku mulai berpikir tidak ingin membuat siapapun yang selama ini mendukungku untuk tetap tegar dalam menjalanin hidup ini menjadi sedih dan kecewa. Namun satu hal yang kutakutkan dalam hidupku saat ini adalah kehilangan orang yang Aku sayangin.
            Aku telah berjanji untuk mengikutin apapun yang Ayah ingin kehendaki. Karena itulah salah satu kasih sayang darinya. Walaupun Aku telah memutuskan untuk pergi ke Singapore. Di setiap detikku menjelang kepergian selalu ada satu kata yang tak bisa Aku ingin lupakan.       
Cinta.
            Dalam keadaanku yang seperti ini rasanya cinta itu telah mulai hilang. Rasanya Aku tidak layak untuk mendapatkan cinta.
Sobat, cinta yang kumiliki harus kurelakan untuk kebaikan bersama. Aku sungguh egois bila terus mempertahankan cintaku. Walau sekian lama ku lihat bayangan dari kekasihku, Andi. Tetap setia menunggu hingga Aku bisa bersamanya untuk setiap waktu. Namun waktu itu pada akhirnya akan berakhir. Sedih rasanya bila Aku harus persimis untuk sembuh. Sedangkan di saat itu dia selalu berharap Aku untuk lekas sembuh dan menunggu hingga batas waktu yang tak pernah ada kepastian.
            Hingga suatu keputusan kuambil untuk kebaikan bersama. Sobat. Aku mengakhiri cinta pertamaku dengan Andi. Kuundang dia untuk datang ke rumahku. Entah apa yang harus Aku katakan padanya. Namun andi telah bersamaku dalam suka dan duka. Dia bahkan selalu ada ketika Aku mulai menjalani pengobatan. Dia yang memberikan Aku semangat untuk terus hidup dalam optimis dan bahagia. Sulit untuk mengatakan hal ini padanya. Namun dengan kebesaran hati Aku berkata padanya..
Andi mulai mengetuk pintu kamarku, Ayah mengantarkan dia hingga ke kamarku dan membiarkan dia masuk sedangkan Aku terbaring di ranjangku di balutin selimut hangat. Dia mulai tersenyum padaku sambil berujar..
            ”Gimana, Keke sudah baikan..?” tanyanya.
            ”Ehm lebih baik.. Maaf ya merepotkan kamu hingga mesti suruh kamu ke sini..!” ujarku,
”Oh gak papa.. Aku senang kok, terlebih bisa ketemu kamu. Sudah seminggu gak ketemu hehe!” kata Andi.
”Andi, hubungan kita telah berjalan dengan lama. Bisa ga Aku bertanya beberapa hal sama kamu?”tanyaku.
            ”Oh, silakan aja. Aku pasti jawab dengan jujur!” ujar Andi dengan semangat.
            ”Terima kasih. Selama ini menjaga Keke dengan baik. Keke senang sekali ketika bisa mengenal Andi dalam hidup Keke. Keke bahagia melebihi siapa pun di dunia ini. Apa yang Andi rasakan selama ini bersama Keke?”
            ”Sama Keke. Keke ini anugrah Tuhan yang paling indah, tanpa Keke hidup Andi terasa kosong.. !!” jelas Andi.
            ”Terima kasih Andi. Mungkin Keke banyak membuat Andi sedih dan merepotkan. Keke yakin Andi juga pasti lelah sama Keke. Tapi Keke ingin Andi bisa menerima apa yang Keke ingin putuskan saat ini!” jelasku.
”Loh.. ga kok... !! Keke sama sekali gak repotin Aku!! Suer deh..!!” balasnya dan Aku tersenyum.
            ”Andi, bisakah kita menjadi teman baik saja..!!” ujarku dan Andi terdiam untuk waktu yang lama dengan wajah sedikit kaget ...... suasana terdiam dan Aku hanya memandang Andi dengan wajah berharap dia mengerti.
            ”Kenapa.. Keke bikin keputusan seperti itu..!” tanya Andi.
            ”Keke hanya ingin melakukan yang terbaik. Keke sayang sama Andi. Tapi Keke gak mau karena sayang Keke terhadap Andi jadi membuat semuanya jadi lebih sulit..” ujarku.
            ”Buat Keke merasa sulit. Tapi buat Andi lebih sulit lagi untuk pisah sama Keke..!”
            ”Andi, Keke mohon. ini yang terbaik. Sekarang mungkin sulit dimengerti namun kelak Andi akan mengerti..!”
            ”Tapi...!” potong Andi.
            ”Maaf Andi.. Keke percaya masih ada jalan panjang untuk Andi. Halhal lain di dunia Andi yang bisa membuat Andi akan mengerti keputusan Keke..!”
            ”Keke, kalau keputusan ini yang terbaik, Andi percaya. Tapi Andi tidak akan pernah melupakan Keke. Andi akan tetap disamping Keke sampe Keke merasa keputusan itu bisa ditarik.. !!”
Dan Aku tidak menjawab apapun. Aku hanya bisa tersenyum dan menahan air mata. Aku tidak ingin menangis dihadapan Andi karena keputusan yang kubuat. Setelah Aku meminta istirahat. Andi keluar dari kamarku. Disaat itu air mataku tertumpah. Aku sungguh tak berdaya terhadap apa yang terjadi. Aku mengambil satu keputusan berat dalam hidupku. Namun itu kulakukan karena Aku tidak ingin diantara kami akan merasakan satu kehilangan besar nantinya. Aku tidak ingin melihat dia selalu menunggu Aku yang sakit seperti ini entah hingga kapan. Aku tidak ingin egois karena semua itu..
Mungkin kelak Aku akan pergi tanpa merasakan suatu kehilangan karena nafasku terhenti untuk mengingat semuanya. Namun tidak padanya. Rasa kehilangan tidak akan terbawa dalam kesedihan abadi.. Aku tidak ingin semua itu terjadi pada siapapun..
            Menjelang keberangkatan ke Siangapore. Ayah telah meminta izin kepada pihak sekolah agar Aku bisa cuti selama enam bulan lamanya. Pihak sekolah dengan baik memberikan kesempatan dan menunggu Aku kembali. Pintu mereka selalu terbuka untukku. Teman temanku pun mendapatkan berita ini. mereka mendekat padaku untuk mendukung langkah apapun yang terbaik untukku.
            Perpisahan awal yang sulit ini sempat membuatku sedih, namun Aku tidak ingin membuat orang yang ada disampingku selama ini merasa kesedihan yang sama. Untuk terakhir kalinya kami berkumpul bersama di satu ruangan kamarku. Kami mulai bercerita kenangan kenangan yang lama diantar kami. Bahkan sahabatku sempat membawakan beberapa kenangankenangan untukku selama di Singapore. Banyak sekali barang yang mereka berikan, hingga Aku bingung. Namun satu hal yang tidak akan pernah Aku lupakan ada sebuah tulisan dari sahabatku. Sebuah tulisan yang tidak akan pernah Aku lupakan untuk selamanya.. Sebuah file yang berisikan gambar gambar animasi yang melukiskan semua sahabatku dan tertulis sebuah kata kata indah..
”Untuk sahabatku Keke. Kami selalu ada di hatimu. Dan selalu bersamamu untuk selamanya. Di sini kami menunggumu untuk kembali”
Kata-kata indah yang membuat air mataku tak dapat bertahan lagi. Disaat itu kuucapkan seribu kata terima kasih. Terima kasih untuk segalanya. Kalian adalah sahabat yang paling indah dalam hidupku. Sahabat yang selalu akan kukenang untuk tak sedetikpun kulupakan. Terima kasih untuk persahabatan indah ini dan kami pun saling berpelukan. Saling mengikar janji satu sama lain. Pelukan yang diwarnai air mata. Air mata yang tak akan pernah terlupa untuk selamanya..
Detik dimana Aku akan meninggalkan tanah air mulai berjalan. Di sepanjang perjalanan menuju bandara Internasional Soekarna-Hatta. Aku hanya terdiam memandang langit dan perpohonan. Sahabatku juga terdiam bersamaku didalam mobil. Mereka mendapatkan izin dari kepala sekolah untuk mengantarkanku ke bandara.
            Tidak sepatah katapun yang terucap dari kesunyian ini. mungkin air mata telah habis dan kering setelah hari kemarin. Dan tiba saatnya Aku untuk mengucapkan sebuah perpisahan..
”Teman-teman.. Keke pamit dulu ya.. Semoga ketika Keke kembali. Kalian bisa ada disini menyambut Keke..!” ujarku.
Dan salah satu dari temanku, Maya mulai menangis. Air mata itu diikutin oleh air mata lain yang mulai berlinang. Dan Aku tidak menangis saat itu. Aku ingin terlihat kuat disaat seperti ini. dan satu kata terakhir untuk sahabatku sebelum kami tidak bertemu kembali..
”kalian adalah sahabat yang paling indah dalam hidupku..!!”
            Kemudian Ayah mulai mengajakku untuk masuk ke ruang boarding. Dan semua proses menuju pesawat berjalan. Kutatap langit dari sampingku. Terlihat indah. Angkasa yang biru membuatku teringat akan semua kenangan yang sama ketika Aku mulai menaiki pesawat bersama Ayah ketika akan pergi bertamasya keluar negeri.  Namun kali ini Aku bukan untuk bertamasya.. Aku pergi untuk menghitung hariku agar menjadi lebih panjang..

[9]
Rumah sakit Elisabeht. Singapore

Ayah mulai mengenalkanku dengan dokter spesialis kanker yang paling terkenal di Singapore. Dr. Peng. Orangnya cukup ramah dan ubannya yang putih menjadi ciri khasnya, dari apa yang Ayah ceritakan. Dr. Peng adalah salah satu dokter terbaik di Asia dalam bidang kanker. Dr. Peng sempat menyapaku dengan bahasanya. How are you?
            Ketika Aku mulai memperhatikan setiap kegiatan yang harus Aku lakukan di rumah sakit ini, Aku mulai berpikir hal yang sama ketika Aku memeriksakan diri di rumah sakit Jakarta. Tidak ada yang berbeda, hanya mungkin peralatan di Singapore lebih modern dan baik. Proses yang sama terjadi. Yakni pemeriksaan darah. Ronsen pada bagian kepalaku yang
terdapat sisa sisa kanker. Dan semua berjalan dengan apa adanya. Aku hanya mengikutin semuanya dengan baik tanpa mengeluh sedikitpun. Beberapa suster hanya terdiam mungkin ia pikir Aku akan menjerit ketika di masukan ke dalam sebuah pil besar yang akan merongsen tubuhku.
Aku ditempatkan dalam sebuah kamar dan hanya bersama Ayah. Kamar ini memiliki dua ranjang bersebelahan dan satu kamar mandi. Layaknya sebuah hotel namun dilengkapi dengan berbagai peralatan kedokteran. Aku tertidur kelelahan dan merasakan sakit kepala. Ayah membiarkan Aku istirahat sejenak dan kemudian ia pergi menuju ruang Dr. Peng yang berserta asistennya sedang meniliti hasil dari copy scene bagian kepalaku.
Ayah hanya terduduk terdiam menunggu Dr. Peng. Setelah menunggu beberapa menit, Dr. Peng mula kembali dan menarik nafas untuk mencairkan suasana tegang.
            ”Bagaimana hasil pemeriksaan?” tanya Ayah.
            ”Hasil kemotrapi di Jakarta masih menyisahkan sel kanker yang berkembang menjadi kebal terhadap kemotrapi itu tersebut!”
”Jadi, hal apa yang harus kita lakukan!”
            ”Pak Jody. Mungkin saya harus meminta maaf sebelumnya, karena pada awalnya saya mengira putri bapak masih bisa di obatin dengan cara saya, namun setelah menganalisa hasilnya. Saya hanya bisa memberikan satu keputusan untuk kasus putri Bapak?” jelas Dr. Peng.       
            ”Ok, bisa saya tahu..!”
            ”Saya harus melakukan operasi kecil untuk mengangkat sel kanker itu!”
            ”Operasi..!” Ayah mulai terdiam karena ia mulai dapat memperkirakan bagian dari operasi tersebut.
Benar saja. Memang operasi itu disebutkan sebagai operasi kecil. Namun operasi itu mengharuskan Aku untuk kehilangan sebagian dari ruas wajah kananku. Mata dan sebagia pelipis pipi dan hidungku. Ayah menyadari itu keputusan yang tidak perlu ia lakukan. Karena operasi ini sama saja dengan hal yang harus di lakukan di Jakarta. Ketika itu Ayah pun meminta waktu untuk berpikir kembali. Dan wajah Ayah menjadi frustasi. Ia kini benar benar mulai menyerah dengan keputusan pelik itu.
Aku mendengar ayahku menangis ketika Aku tertidur disampingku. Aku mendengarkan dengan jelas isak tangis Ayah disampingku, namun Aku tidak mencoba untuk bangun. Aku tidak ingin Ayah menyadari Aku melihatnya menangis. Hatiku terasa gundah akan tangisan itu. Sungguh Aku tak bisa melihat Ayah menangis. Dia adalah Raja hidupku. Dia orang yang paling berjasa dalam hidupku. Rasanya Aku ingin bangun dan berkata,
            ”Ayah jangan menangis lagi. Jangan menangis untuk Keke. Jangan biarkan Keke sebagai air mata dalam hidupmu?” namun Aku tak berdaya.
Dan membiarkan air mata itu mengalir dan tanpa pernah bisa menghentikan. Ketika air mata itu mulai berhenti. Aku mencoba bangun dan Ayah menyadari itu. Ia bergerak menuju toilet dan kembali menyapaku dengan hangat..
            ”Anak Ayah sudah bangun ya. .Mimpi apa Keke?” tanya Ayah.
            ”Tidak mimpi apa-apa Ayah..” ujarku tersenyum.
            ”Gimana masih sakit kepala.. ?” tanya Ayah.
            ”Sudah mendingan.. Ayah gak tidur?” tanyaku sambil memperhatikan jam di dinding terlihat pukul 8 malam.
            ”Hehehe... Mau tidur tapi gimana ya.. Anak Ayah sudah kebangun sih! Keke lapar gak?” tanya Ayah.
            ”Hm.. Sedikit sih hehe.. Tapi lapar juga ya hahahaha!” ujarku tertawa.
            ”Gimana kalau kita jalan-jalan ke depan.. Ayah tahu restorant bubur paling enak di Singapore!”
            ”Oh ya.. Emang dokter boleh Keke keluar..!”
            ”Ah untuk sekarang ini peduli amat kata dokter, yang penting Keke senang, ayah juga senang. Kita senang-senang di sini oke!!!”
            ”Wah, yang bener.. Keke ganti baju ya..!”
            Aku sungguh tidak percaya dengan kata-kata Ayah sejenak. Mungkin sangat aneh, sebab baru kali ini Ayah ingin mengajakku makan apa saja yang bisa Aku makan. Aku pun beranjak menuju lemari untuk menganti baju.
Beberapa saat kemudian kugunakan topi untuk menutupi si gundul. Kami pun menikmati malam itu bersama di negeri singa. Negeri penuh keindahan kota malam yang indah.
Kenangan yang sulit terlupa. Walau kami memang sering bersama keluar negeri. Namun ntah mengapa hari ini menjadi sangat istemewa untukku. Mungkin kondisiku. Mungkin keadaanku. Atau mungkin karena Aku mulai berpikir hal ini tidak mungkin kembali lagi...
            Sobat.. Aku menunggu dan merindukan semuanya...

[10]
ADAKAH PILIHAN LAIN UNTUK HIDUPKU TUHAN?

Setelah sepanjang malam kami berjalan dan menikmati Kota Singapore. Kami mulai kelelahan dan kembali menuju rumah sakit. Karena mungkin Ayah melihatku kelelahan karena berjalan, Ayah menawarkan Aku untuk di gendong. Walau Aku malu. Namun kakiku memang terasa lelah dan tawaran Ayah kuterima dengan senang hati.
            Sepanjang perjalanan Ayah bernyanyi sebuah lagu yang tak akan kulupakan, lagu dari group Tangga, dengan hitsnya ”Terbaik untukmu” Aku hanya mendengarkan hingga tertidur. Dan setiba dirumah sakit, Ayah membaringkan tubuhku dengan pelan. Dan Aku tertidur dengan sebuah kecupan kasih sayang dari Ayah. Ia berbisik..” Selamat tidur anakku”.
            Pagi-pagi sekali Aku bangun dan melihat Ayah tidak ada di ruangkamarku. Aku hanya bangun sesaat kemudian melihat jendela yang mengarah ke sebuah taman. Kulihat banyak sekali orang yang berada di taman untuk menikmati suasana rindang taman yang dipenuhin oleh perpohonan yang indah. Ingin rasanya Aku berada disana. Namun Aku menunggu Ayah di kamar. Beberapa saat kemudian Ayah kembali ke kekamarku dan menyapaku dengan ucapan ”Selamat pagi sayang, kok bangunnya pagi amat?” Dan Aku hanya tersenyum kemudian Ayah terlihat membawa sebuah sarapan pagi untukku. Satu roti dengan soup jagung. Kemudian dia membawaku ke ranjang dan memperlakukan Aku seperti bayi berusia 5 tahun yang siap menerima suapan dan suapan untuk bertambah besar. Aku hanya terdiam dan terus melihat Ayah bercanda dan bercerita akan hal yang membuatku menikmati makan pagiku. Padahal Aku tidak mempunyai mood makan karena kepalaku terasa sakit.
”Gimana Ayah, keputusan Dr. Peng? “ tanyaku.
            Ayah terdiam dan kemudian meletakan sarapan pagiku dimeja.
            ”Keke, mungkin lebih baik kita pulang ke Indonesia saja..!”
            ”Loh, kenapa begitu. Memangnya ada apa?”
            ”Sepertinya kamu lebih bahagia di Indonesia. Dokter Indonesia juga gak jauh lebih baik..!”
            Dan Aku mulai curiga dengan jawaban itu.
            ”Maksud Ayah apa sih..? Jelasin ke Keke dong..?” tanyaku.
            ”Keke, mungkin ada baiknya kamu tahu. Ayah gak bisa berbohong..!”
            ”Oh.. Ada apa ?” ujarku pelan.
            ”Dr. Peng, setelah memeriksa kanker tersebut. Mempunyai satu prosedur yang sulit untuk Ayah terima. Dan prosedur pengobatan itu tidak lebih sama dengan apa yang harus di lakukan di Jakarta. Untuk itu Ayah keberatan dan lebih baik Ayah memutuskan kamu berobat jalan di Indonesia dengan bantuan pengawasan Dr. Peng!
            ”Ayah.. Prosedurnya apa boleh Keke tahu ?” tanyaku. Ayah terdiam sejenak...
            ”Ok lah.. Keke.. Ayah akan ceritakan semua biar semua jelas biar Keke tahu hal apa yang membuat Ayah tidak tega sehingga memutuskan kamu lebih baik berobat secara tradisional sejak dulu..!”
            ”Pihak dokter yang menanganin kasus kamu ingin melakukan operasi. Dan operasi itu cukup berat untuk Ayah. Dan Ayah rasa itu pun berat untuk kamu. Hal pertama yang dilakukan dari operasi itu adalah mengangkat sel tumor itu hingga akarnya. Dan yang terburuk, dimana letat kanker itu ada,  disana separuh dari bagian tubuh Keke juga akan itu terangkat!” Dan Aku mulai merinding mendengarkan penjelasan Ayah.
            ”Dan kemudian Keke bisa menjadi cacat dengan kehilangan sebagian hidung. Mata dan kulit pipi. Untuk itu Ayah tidak bisa melakukan tindakan tersebut, terlebih tidak ada kepastian akan hasil dari operasi tersebut..!!” ujar Ayah.
            ”Seperti itu ya.. ”ujarku berusaha tidak terlihat takut dan mata Ayah mulai terlihat basah dan memerah karena menahan air mata. Aku pun memeluk Ayah disampingku dengan erat dan kami terdiam. Aku hanya berusaha untuk kuat dan Ayah menyadari rasa ketakutan ku saat mendengar operasi yang harus Aku lakukan. Dan rasa takut itu Aku lakukan dengan
memeluk Ayah sekeras mungkin..
            ”Ayah, apakah dengan begitu Keke akan sembuh dan menjadi lebih baik!”
            ”Maafkan Ayah, Keke.. Ayah tidak tahu.. Itu semua hanya Tuhan yang bisa menjawab..” ujar Ayah dan ia mulai menangis.
            ”Ayah, jangan menangis.. Jika Ayah menangis, Keke jadi ikut ingin menangis... Keke bisa menerima apapun yang terjadi walau Keke harus kehilangan mata. Kehilangan hidung bahkan Keke rela untuk dapat bersama Ayah.. Keke rela kehilangan apapun tapi Keke hanya ingin satu. Keke ingin selalu bersama Ayah. Cuma itu Ayah..!! Jangan menangis Ayah. Jangan!! ”dan Aku pun mulai menangis. Tangisan kami terdengar hingga keluar ruangan kamar kami yang tidak tertutup. Seorang suster yang lewat memperhatikan kami dan kemudian dia menutup pintu kamar kami. Suster itu hanya bisa memandangin kami kemudian pergi dengan rasa terharu..
”Jadi Keke rela kehilangan semua bagian dari wajah Keke!”
            ”Walau sesungguhnya dalam hati Keke takut. Tapi Keke tidak punya pilihan lain untuk selamat. Keke hanya bisa pasrah untuk menerima!”
            ”Tapi Ayah tidak rela.. Ayah tidak rela anak Ayah yang cantik harus kehilangan segalanya.. Ayah tidak akan pernah rela untuk semua itu.. Ayah akan gunakan segala cara agar ada hal lain yang bisa menyelamatkan Keke seperti ketika Tuhan memberikan mujizat dulu!!”
            ”Keke percaya.. Keke percaya akan semua Ayah.. Apapun yang Ayah lakukan Keke akan selalu percaya!!
            Dan itulah ayahku. Penuh dengan ketidakputusaan. Penuh dengan semangat. Penuh dengan kasih sayang.. Aku sungguh bangga menjadi anaknya. Sungguh ingin selalu bersama. Selalu ada disampingnya..
            Setelah melalui sebuah pembicaraan yang rumit dan berbagai pertimbangan akhirnya Ayah memutuskan untuk membawaku kembali ke Jakarta. Sebelum Aku kembali dari Jakarta, Ayah telah memberitahu temantemanku di Jakarta, mereka dengan antusias datang menyambutku di bandara. Sungguh hatiku sangat bergembira. Sempat terpikir olehku ini
adalah pertemuan terakhir dengan mereka ketika akan pergi ke Singapore.
            Namun kami akhirnya bertemu kembali. Dengan suka cita kami saling berpelukan. Banyak hal yang telah menanti untuk diceritakan. Aku ingin kembali bersekolah walau dalam keadaan sakit seperti ini, pada awalnya Ayah sempat tidak mengizinkan karena kondisi fisik Aku sangat lemah, namun setelah Aku jelaskan bahwa Aku akan tetap baik-baik saja. Ayahpun luluh namun dengan pengawasan asister pribadi Ayah , Pak Erwin.
Aku bisa bersekolah secara normal. Terkadang Aku merasa tidak kuat untuk memandang dan menulis. Namun Aku tidak akan pernah melewatkan satu detik pun pendidikan yang bisa Aku dapatkan selama Aku masih bisa. Aku ingin terus bisa mendapatkan apa yang Aku bisa selama Aku bisa hidup. Aku ingin terus mendapatkan.      
            Semua sahabatku dikelas tidak pernah merasa terganggu oleh keadaanku. Mereka sungguh luar biasa. Setiap jam istirahat mereka selalu ada disampingku. Memberikan Aku semangat dan cerita cerita lucu. Itulah mengapa Aku menyukai sekolah. Karena Aku bosan berada di kamar untuk waktu yang lama dengan melihat tayangan telivisi. Aku ingin bisa bertatap muka dengan mereka. Mendengar semua yang bisa Aku dengar selama Aku bisa.. Selama Aku bisa sobat? Mungkin terasa sangat bersemangat, namun sesungguhnya Aku hanya takut hal itu terlewat dan ketika Aku mulai tidak bisa mendengarkan Aku akan kehilangan banyak hal.. Dan tidak ada lagi yang bisa Aku dengar.

[11]
BULAN SUCI, SAATNYA AKU BERPUASA

Sebentar lagi akan datang bulan suci Ramadhan. Semua telah mempersiapkan bulan tersebut dengan baik termasuk Aku. Walau dalam dua tahun ini kesehatan ku terganggu. Aku tidak pernah melewatkan bulan tersebut. Kebetulan menjelang bulan Ramadhan, semua murid diliburkan untuk persiapan bulan Ramadhan selama tiga hari. Aku sempat berpikir ingin ke satu tempat yang Aku sukai. Namun Aku tahu kondisiku saat ini terbatas untuk melakukan perjalanan jauh.
Sobat, tahukah kamu Aku paling suka kota Paris? France. Sejak kecil aku terbiasa berkeliling di daerah tersebut. Ayah selalu membawa Aku liburan kesana, bahkan rasanya itu kota terindah yang pernah Aku lihat. Namun karena kondisi ekonomi kami juga Aku sadarin mungkin telah habis karena pengobatan Aku. Aku berbicara dengan Ayah. Bolehkah Aku berjalan-jalan bersama teman teman menuju kota Bandung. Miniatur dari Paris. Yakni Paris De Java.
Pada awalnya Ayah sempat meragukan, terlebih Ayah tahu Aku ngotot untuk ikut berpuasa. Ia takut kondisi Aku akan menjadi lebih buruk. Namun setelah melakukan negoisasi akhirnya Aku mendapatkan izin dengan syarat ketika Aku tidak kuat untuk berpuasa, maka Aku harus batal. Dan Aku setuju. Setidaknya Aku akan berusaha untuk bertahan sebisa mungkin Aku bisa. 
Teman-temanku juga mulai mempersiapkan perjalanan ke Bandung. Mungkin ini untuk kesekian kali kami ke Bandung. Namun 3 tahun terakhir Aku tidak pernah ke Bandung. Rencana perjalanan kami adalah melalui konvoi mobil dari Jakarta menuju Garut kemudian menuju Bandung.
Tiba harinya kami berkumpul untuk berangkat ke Bandung. Semua sahabatku berkumpul dirumahku, mereka memutuskan untuk menginap di rumah ku sambil berbuka dan sahur bersama. Tentunya genk kami lengkap. Semua sudah siap menikmati perjalanan ke Bandung. Pagi sekitar pukul 9 kami sudah memulai perjalanan dari Jakarta menuju Garut. Dari Garut, tepatnya kacamatan Wanaraja Aku menuju ke Bandung yang jaraknya 80Km dengan melewatin alam gunung yang indah dan udara yang sejuk.
Aku hanya terdiam memperhatikan keindahan alam luar biasa pada tanah airku. Puji syukur kupanjatkan pada Tuhan. Aku bisa merasakan keindahan alam yang luar biasa di bumi pertiwiku. Aku tidak ingin melewatin pemandangan ini. Sekitar pukul satu siang. Kami sudah keluar dari tol Pasteur dan masuk ke kota Bandung. Aku sedikit kecewa ketika harus kehilangan pemandangan indah nan elok itu.
Dan suasana berubah seketika. Udara memasuki kota Bandung menjadi kotor dan cuacanya sangat panas. Akhirnya Aku kelelahan dan memutuskan untuk membatakan puasaku hari ini. Sobat, cuaca kota Bandung berbeda dengan beberapa tahun silam. Kini udara panas menyelimuti ibukota Jawa barat, yakni Bandung. Aku sempat protes dalam hatiku. Bandung yang dulu terkenal dengan Parijs Van Java karena keindahan panorama alam.
Kembang warna-warni dan udaranya yang sejuk tidak berbeda jauh dengan Paris sesungguhnya kini telah berubah. Karena pembangunan Flyover, pembangunan kost-kosan atau proyek besar lainnya. Seperti pembangunan pusat pembelanjaan tanpa didukung dengan penataan yang baik mengakibatkan Bandung jadi sumpek dan terjadi pemanasan di kota Bandung (udara tidak segar) dan Aku pikir mungkin hal ini bisa dihindarin bila saja penataan kota dilakukan dengan baik dan tentunnya dibarengin dengan penghijauan.  
            Sobat mungkin kalian merasa Aku sok pintar atau segala macam? Namun Aku hanya ingin mengatakan satu hal yang terpikikan olehku. Tidak ada maksud apapun selain Aku hanya ingin keindahan dan sejarah dari apa yang membuat Bandung disebuh Parijs Van Java, tetap terjaga. Setelah keliling kota Bandung. Memang banyak sekali terjadi perubahan besar di kota Bandung. Bandung telah menjadi kota besar yang dipadatin oleh perkantoran dan mobil mobil serta motor yang menurut Aku dapat memicu naiknya suhu udara secara globar serta terjadinya perubuhan iklim.           
            Aku hanya berharap kalau kita menginginkan kota bandung seperti apa nama asalnya yakni Parisj Van Java. Maka kelak kita harus melakukan berbagai penanaman pohon dan membangun gedung secara ramah lingkungan. Dalam melakukan pembangunan , harus dilakukan dengah bahan menyerap panas seperti kayu-kayuan. Dan tentungnya pembangungan kota harus tetap memperhatikan lahan terbuka hijau. Maka tidak mungkin suhu udara bandung akan kembali normal sperti semula dan membuat kita betah untuk  di sana.
Ya , mudah-mudahan suatu saat ketika Aku bisa kembali.. Aku bisa masih menikmati warna-warni dan penaroma yang indah serta suhu udara segar ketika dulu Aku kembali. Tentunya sesuai khayalanku. Sambil duduk duduk di pelantara Ciwalk di Cihampelas sambil menonton band band anak Bandung yang beraksi.
Atau...
Ketika Aku kembali lagi. Bandung telah berubah menjadi lebih panas. Dan kalau ini terjadi akan mengingatkan kita akan sebuah peristiwa sejarah ”Bandung Lautan Api” peristiwa tanggal 23 Maret 1946, dimana rakyat mengosongkan Bandung atas perintah sekutu dengan memilih membakar Bandung daripada jatuh ketangan sekutu. Hanya kita yang bisa memilih
sobat.. Ingin Bandung tetap menjadi Parisj Van Java atau.. Bandung Van Lautan Api.
            Sekali lagi mungkin apa yang Aku ungkapan tidak berarti untuk siapapun. Namun Aku hanya berharap andai suatu ketika Aku masih ada waktu untuk kembali dan melihat kota kesayangaku ini. Aku hanya ingin kembali seperti apa adanya. Mungkin Tuhan masih mencintaiku sehingga Aku masih diberikan satu kesempataan untuk melihat kota ini. Namun andaipun Tuhan telah siap untuk memanggilku kembali ke kotanya.. Aku hanya berharap tulisan ini dapat menjadi kata-kata terakhir untukku. (artikel tentang Parisj Van Java menjadi tulisan terakhir Keke yang di publiskasikan di majalah sekolahnya ).
            Perjalanan indah telah berakhir, kami kelelahan setelah sepanjang perjalanan. Tak henti hentinya senyuman kebahagian dan kebersamaan selalu ada di wajah kami dan setidaknya senyum itu terasa hangat dan menyentuk hatiku. Dan setidaknya Aku bersyukur untuk tetap ada disini sampai Aku bisa menghitung detik-detik. Aku mulai harus melangkah meninggalkan kota kenangan ini. andai Aku bisa kembali.. Aku ingin kembali Tuhan.. Sungguh Aku ingin kembali...

[12]
TUHAN, IZINKAN AKU UNTUK MENULIS
YANG AKU BISA LAKUKAN!

Hujan rintik terdengar ringan di telingaku, Aku terbangun. Baru saja Aku melewati hari Idul Fitri. Acara penuh dengan hikmah. Aku senang karena bisa melewatin puasa tahun ini dengan baik. Walau sedikit bolong. Setidaknya Aku telah berusaha melakukan yang terbaik. Walau kondisiku telah memburuk. Aku mulai merasakan kesakitan yang tidak bisa kujelaskan.             Nafasku terasa berat. Setiap tarikan nafas yang mengambil udara dari paruparuku telah menusuk dan membuat Aku harus menahan dengan sekuattenaga.
            Mungkin sebagian dari organ tubuhku telah rusak, dan dari apa yang Aku ketahui. Kanker itu telah bersarang di bagian paru-paru dan otakku. Ya Tuhan, Aku tidak berharap untuk berpikir hal tersebut dapat mengakhiri hidupku, Aku hanya mencoba hidup bersama kanker tersebut dengan kuat. Dan Aku berharap setidaknya Aku bisa hidup secara normal walau dari hari ke hari Aku mulai melemah dan tidak sehat.
            Aku mengambil sebuah catatan yang kupinjam dari sahabat kelasku, sebentar lagi ujian tengah semester akan bergulir. Aku harus belajar agar bisa ikut dalam ujian tersebut. Tanganku memang masih kuat untuk menulis namun tidak kuat untuk waktu yang lama. Satu-satunya jalan yang Aku ambil adalah meminjam catatan dari sahabatku kemudian meng-fotocopy salinan tersebut untuk kubawa ke rumah. Dalam kondisi seperti ini Aku tidak ingin
melewatkan waktu sekolah sedikitpun. Walau terkadang Aku terganggu dengan keadaan namun Aku berusaha untuk terus bertahan. Dan bila Aku sudah tidak sanggup. Aku izin untuk pulang beristirahat.
Ketika Aku sedang belajar dikamarku. Ayah masuk dan membawakan Aku obat yang harus kuminum. Hal yang biasa ia selalu tanyakan tentang kondisiku. Dan Aku selalu berkata Aku baik baik saja. Kali ini Ayah melihatku sedang membaca buku catatan. Dan Ayah mulai bertanya padaku
”Keke kamu belajar ya..”
            ”Iya Ayah. Bentar lagi ada ujian semester..!” dan Ayah terdiam sejenak.
            ”Kamu yakin kamu bisa ikut ujian dengan baik..!”
            ”Semoga saja.. Setidaknya Keke siap untuk ikut ujian!!”
            ”Tapi kondisi kamu, apa bisa ikut mendukung?” tanya Ayah khwatir.
            ”Ayah tenang saja.. Keke masih kuat untuk ikut ujian tersebut.!”
            ”Kalau begitu Ayah harus bicarakan dengan pihak kepala sekolah kamu!!” jelas Ayah dan Aku sedikit bingung.
            ”Untuk apa..?” tanyaku.
            ”Keke.. Kamu sekarang berbeda dengan keadaan yang dulu, setidaknya mereka telah siap untuk tahu kalau kamu akan ikut ujian..!”
            ”Hm...” Aku mulai mengerti.
            ”Ya sudah. Semua Keke serahkan sama Ayah untuk mengurus..!”
            Sesungguhnya melihat kondisiku yang seperti saat ini, Ayah sempat cemas apa Aku bisa mengikutin ujian dengan baik. Namun Aku menyakinkan kalau Aku masih bisa untuk ikut dalam ujian tersebut. Tekad serta keinginan keras dari Aku membuat Ayah ikut mendukung. Mungkin beliau mulai menyadari tidak ada hal lain yang bisa Aku lakukan selain meminta satu hal ini. Setelah semua jelas, Ayah kemudian mulai membicarakan hal ini dengan kepala sekolah. Pada awalnya pihak sekolah sedikit ragu untuk memberikan kesempatan tersebut. Namun Ayah menjelaskan dengan tekad yang kumiliki dan akhirnya Ayah mendapatkan dua opsi dari kepala sekolah.
Pertama, Aku mengikuti ujian di rumah dan kedua, ujian dilakukan di ruang khusus untukku. Mendengar tawaran tersebut. Aku menolak. Aku ingin ujian secara normal. Walau tanganku mulai sulit untuk bergerak, namun Aku masih mempunyai sisa kekuatan untuk itu. Keinginanku ini akhirnya terkaburkan. Pihak kepala sekolah mengizinkan Aku untuk ikut dalam ujian semester itu secara normal. Hatiku sangat gembira. Setidaknya Aku bisa menjalankan tugasku sebagai murid untuk ikut dalam ujian tengah sekolah dengan baik.
            Persiapan yang kulakukan dalam menghadapin ujian ini cukup berat. Karena sering absen sakit. Beberapa mata pelajaran telah tertinggal. Sehingga Aku harus extra dalam memperhatikan setiap bab demi bab pelajaran yang kutinggalkan. Untungnya Aku memiliki sahabat yang selalu ada untukku, mereka selalu datang padaku. Mereka selalu mengajarkan Aku beberapa hal yang tak kupahamin. Dan Aku telah siap untuk menuju bangku ujian dengan tekad Aku bisa mendapatkan dan meraih yang terbaik.
            Dua hari menjelang ujian. Tubuhku mulai lemas. Sepertinya kanker itu mulai berkembang dan ingin membuat Aku terdiam di kamarku. Namun Aku mencoba melawan semuanya dengan kuat. Tetes demi tetes darah yang mengalir dari hidungku terus kutahan dan rasa perih di setiap detik tarikan nafasku terus kuhadapin tanpa mengeluh.
            Hari ujian berjalan di mulai hari ini.
            Aku mendapatkan kursi diantara barisan terdepan. Melihat kondisiku yang tidak kunjung membaik. Ayah sempat melarangku untuk ikut. Namun kupastikan sekali lagi Aku masih kuat untuk ikut dalam ujian. Kondisi lambung Ayah memburuk ketika itu. Sehingga ia tidak bisa mengantarkan Aku dalam ujian, sebagai gantinya asisten Ayah yang menemanin Aku dalam menghadapin ujian. Mungkin Aku satu satunya murid yang didampingin oleh asistenku ketika menghadapi ujian.
Menjelang bel ujian pertama Ayah menelepon Aku untuk memberikan dukungan. Karena kondisi fisik Ayah yang jatuh dan lambungnya yang tidak sehat sehingga ia harus melakukan cek kesehatan di rumah sakit.
            ”Selamat berjuang ya Keke.. Maaf Ayah gak bisa temanin kami, Ayah temanin kamu dengan doa ya.. !” ucapan Ayah di telepon yang membuatku semakin kuat.
            Ujian pertama berjalan dengan baik dan tidak ada masalah dengan keadaanku. Namun ketika menuju ujian kedua keadaanku mulai menurun. Bahkan Aku tidak sanggup mengoreskan pensil untuk menghitamin lubang jawaban di kertas. Aku memperhatikan sekelilingku semua sedang sibuk dengan ujian. Dan Aku terdiam sejenak. Beristirahat menahan rasa sakit kepalaku, hingga tak kusadarin tetesan darah mulai mengalir dari hidungku.
Aku berusaha menahannya dengan tisue. Namun tetesan darah itu terlalu banyak sehingga asisten Ayah yang melihat keadaanku. Langsung berlari menujuku sehingga membuat semua orang terlihat kaget.
”Pak Erwin.. Keke mimisan..!”ujarku.
            ”Keke, ayo Pak Erwin gendong ke toilet..!!” ucap Pak Erwin sigap.
Tetesan darah yang jatuh ke lantai menjadikan setiap tetesan darah itu adalah langkah dimana Aku berlari menuju toilet. Hari ini tidak seperti hari sebelumnya. Darah itu terus mengalir. Mungkin terjadi tekanan kuat dalam otakkku sehingga darah yang keluar sebagai impitasi dari tekanan tersebut.
Wajahku terlihat pucat. Dan pak Erwin hendak menelepon ayahku namun Aku melarang..
            ”Jangan telepon Ayah.. Keke gak papa.. ini Cuma mimisan biasa..!”
            ”Tapi Keke.. !”
            ”Percaya.. Keke gak papa Keke masih sanggup untuk terusin ujian..!”
            Mungkin setiap ruangan telah ternoda oleh darahku. Bahkan Aku sudah tak sanggup melihat toilet ini penuh dengan darahku. Namun Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar darah ini cepat berhenti. Hingga darah ini terhenti sekitar 15 menit kemudian Aku mulai bisa tenang. Aku meminta Pak Erwin untuk mengantarkan Aku kembali ke ruangan. Bahkan Aku sudah tidak sanggup untuk berjalan. Pak Erwin merangkulku hingga menuju kursi dimana telah kutinggalkan.
            Entah ketika Aku telah masuk dalam ruangan. Darah yang tadi berjatuhan di lantai telah hilang. Mungkin telah di bersihkan oleh petugas kebersihan. Seorang pengawas bertanya padaku apa Aku masih bisa meneruskan ujian tersebut. Hingga Aku bertanya satu hal..
            ”Bu, boleh gak, kertas ini dijawab oleh saya.. Namun dituliskan oleh Pak Erwin.. Sebab tangan saya sudah tak kuat untuk bergerak..!” ujarku.
            Mendengar permintaanku tersebut. Ibu pengawas itu sepertinya prihatin dan memberikan izin kepada Pak Erwin untuk membantuku, setidaknya hari ini Aku bisa menyelesaikan ujian dengan baik. Setelah ujian tersebut selesai. Semua sahabat yang mendengarkan kejadian tadi berlari menujuku. Mereka sedih dan menangis disampingku. Mereka berharap Aku tidak apa-apa. Aku hanya bisa tersenyum kepada sahabatku.. Kukatakan dengan sebisaku.
            ”Keke masih bisa dan kuat.. Kalian jangan cemas.. Keke masih kuat..!!
            Di Rumah Sakit
            Aku terkejut ketika Ayah memberitahukan Aku kalau dia harus di rumah sakit untuk beberapa hari karena terjadi infeksi pada lambungnya. Aku sedikit cemas dengan keadaannya. Namun ia melarangku untuk berkunjung. Ia menginginkan Aku tetap di rumah dan tidak usah memikirkan keadaannya karena dia baik baik saja. Ia hanya ingin Aku fokus pada ujiannya.
            Dokter yang merawat Ayah sempat bingung dengan hasil diagnosa lambungnya tidak terjadi apa-apa. Namun Ayah selalu mengeluh kesakitan. Sehingga dokter memutuskan untuk memanggil seorang psikolog padanya.
Ayah yang terkulai lemas terus mengeluh sakit pada lambungnya. Dan ia terus menangis. Sehingga psikolog tersebut akhirnya mengajak Ayah untuk berbicara secara empat mata..
”Lambung Anda sakit ya Pak Jody..!” tanya psikolog wanita bernama Ana tersebut.
            ”Iya, sakit dan saya bingung hasil dokter bilang tidak terjadi apa apa?” jelas Ayah.
            ”Mungkin ada hal yang ingin Bapak keluhkan kepada saya.. Bisa saya bantu apapun masalah Anda!?” tanya psikolog itu.
            ”Sebenarnya.. Saya stress.. Anak saya sedang ujian akhir sekolah!|”
            ”Loh kok, anak ujian sekolah Anda yang stres?”
            ”Masalahnya anak saya sedang sakit.. Dan sakitnya itu sangat parah!” ujar Ayah mulai menangis.
            ”Oh.. Jadi apa nama sakit anak Anda!”
            ”Kanker.. Kanker jaringan lunak.. Kanker yang paling berbahaya.. Dan semua dokter telah menyerah dan tidak sanggup untuk mengobati dia!”
Dan Ayah mulai bercerita kepada psikolog itu tentang Aku dan piskolog wanita itu hanya menahan nafas kemudian berkata satu hal yang menenangkan Ayah..
            ”Bila Anda Ayah yang baik. Anda akan kuat dan sembuh. Karena anak Anda sudah membuktikan kalau dia adalah anak yang kuat.. Sekarang bangun dan tunjukkan kepada anak Anda sebuah keceriaan. Biarkan dia bahagia.. Dia pasti cemas ketika ayahnya sakit seperti ini!”
            ”Keke memang anak yang kuat. Entah sudah berapa banyak air mata yang saya keluarkan tidak sebanding dengan air matanya, saya hanya tidak ingin kehilangan anak saya.. Saya mencintai dia.. Saya ingin dia selalu ada disisi saya..!”
            ”Itu kehendak Tuhan.. Kalau seorang anak berusia 15 tahun saja siap menerima keputusan Tuhan.. Kenapa Anda tidak!! Anda telah berusaha melakukan yang terbaik.. Namun bila harus merelakan kepergiannya bukankah itu jalan yang terbaik.. Mungkin Anda lebih tahu bagaimana keadaan Keke sendiri dalam menghadapi rasa sakit tersebut”
            Dan akhirnya Ayah tersadar betapa ia sangat egois bila harus mengeluh akan ketidakadilan yang terjadi padaku. Ia mulai bisa menerima semua sebagai jalan terbaik dari Tuhan. Aku mungkin tegar ketika harus menghadapin detik-detikku. Namun Aku tidak akan tegar bila tidak ada Ayah disampingku. Tanpa dia mungkin Aku akan hilang dengan tanpa kekuatan sedikitpun. Karena Ayahlah Aku bertahan hingga detik ini.
            Ujian telah berakhir. Dan untungnya di hari kedua tidak ada setetes darahpun yang keluar ketika ujian. Walau terjadi dirumahku setidaknya tidak terjadi saat ujian. Ayah keluar dari rumah sakit berbarengan dengan usainya ujianku. Ayah sedikit lebih kurus ketika keluar dari rumah sakit namun wajahnya terlihat lebih ceria. Telah banyak habis waktu yang ia luangkan untukku dan sungguh detik itu sangat berharga ketika Ayah memberikan Aku selamat dan minta maaf karena tidak bisa menemanin saat ujian berlangsung.
Sobat, Aku mulai kelelahan dan ingin tidur lebih lama. Entah mengapa Aku mulai merasa lelah untuk bangkit dari tempat tidur. Kakiku terasa sangat lemas. Bahkan tidak ingin berkerja sama dengan diriku. Mereka seolah menolak perintahku untuk berjalan. Aku hanya bisa terbaring dengan lemas. Namun ada satu hal yang selalu kunantikan. Sebuah film yang cukup menyentuh selalu hadir disetiap waktu Aku di ranjang.
Buku harian Nayla..
Film tersebut muncul setiap malam di salah satu telivisi swasta. Aku tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu untuk melihat film tersebut. Film yang melukiskan ketabahan seorang anak remaja dalam menghadapi penyakit Antraksia. Dimana dalam cerita tersebut dilukiskan Nayla yang divonis sebuah penyakit yang tidak ada obatnya. Dan hanya menunggu waktu hingga ia mulai kehilangan semua kekuatan untuk bergerak. Namun ada cinta disampingnya membuat ia menjadi tegar dan kuat.
            Sobat tahukah apa yang kurasakan ketika melihat film tersebut? Aku berpikir hal yang sama telah terjadi dalam hidupku. Aku merasa tidak sendirian dalam menghadapin masalah kehidupan. Setidaknya ada hal yang abadi pernah terjadi di dunia ini dan mereka telah siap untuk semuanya.  Walau pada akhirnya dalam tokoh Nayla telah tiada dalam dunia ini. Aku hanya menunggu detik untuk hal yang sama.
            Aku mulai selalu lelah dan tak kuat untuk berjalan. Hingga suatu malam darah yang keluar dari hidungku tak tertahankan. Tubuhku terasa dingin dan meronta ronta kesakitan. Kepalaku seperti tertekan oleh sebuah penjepit jemuran beribu-ribu rasanya. Aku mulai panik dan sesak nafas. Ayah terlihat histeris melihat keadaanku. Seluruh keluargaku mulai terlihat panik disampingku. Selepas keadaan menjadi tenang. Dan Aku mulai terkendali, rasa sakit itu mulai meredah.. Ayah mengambil keputusan membawaku ke rumah sakit terdeket. RS Ciptomangunkusumo.
Sepanjang perjalanan malam tersebut Aku hanya terdiam. Tak kuat rasanya Aku untuk bicara sepatah kata dengan Ayah. Nafasku sulit untuk terkendali. Ayah terlihat cemas dengan beberapa kali menyalakan klakson mobil ketika melihat motor melewatin kami dengan tidak hati-hati.
”Ayah.. Pelan pelan.. ” ujarku terpatah patah dan Ayah mulai terkendali.
Setibanya di rumah sakit. Aku berkata hal kecil lagi kepada Ayah..
            ”Ayah.. Boleh tolong gendong Keke.. Keke sudah gak kuat berjalan.. ” ujarku berusaha bercanda untuk menghilangkan rasa tegang Ayah.
            Akhirnya kami memasuki rumah sakit. Dengan mengendong tubuhku yang mulai lemas. Akhirnya kami bertemu dengan dokter yang siap memeriksa keadaanku. Dokter membuat keputusan Aku harus dirawat di rumah sakit. Ayah menuruti perintah tersebut. Dan beberapa pemeriksaan dilakukan dalam tubuhku. Dan Aku hanya bisa memandangin setiap detikdetik dimana suster menyiapkan sebuah alat yang dipasangkan dalam tubuhku.
            Aku kelelahan sobat. Aku sungguh ingin tidur, namun tidak untuk sekarang. Karena Ayah masih menjagaku. Aku ingin berbicara dengan Ayah untuk beberapa saat sebelum Aku tertidur.
            ”Ayah, jangan cemas ya.. Keke gak papa.. Keke Cuma cape dan butuh istirahat!!”
             “Iya Keke.. Ayah tungguin, kalau Keke ngatuk. Tidur aja, biar cepat sehat.. Ayah akan selalu disini..!”
            Dan malam itu, kami menginap di rumah sakit. Untuk beberapa kali Aku mengalami kesulitan dalam bernafas sehingga harus di bantu dengan alat bantu pernafasan. Aku mengeluh sakit kepalaku. Dan bila itu terjadi dokter memberikan Aku suntikan peredah rasa sakit dan semua mulai membaik dan Aku hanya tertidur.
            Sudah satu minggu lamanya Aku menginap dirumah sakit dan semua berjalan dengan cepat. Ada satu proses dimana Aku tidak mengerti telah terjadi dalam kepalaku. Mungkin satu hal itu hanya bisa dijelaskan oleh Ayah. Namun setelah proses yang bernama operasi tersebut. Rasa sakit tekanan pada kepalaku mulai merendah tidak seperti pertama ketika Aku datang.
Ketika saat keadaan Aku mengeluh sakit kepala. Ayah berkonsultasi dengan dokter. Dan dari hasil pemeriksaan tersebut telah terjadi pembesaran kanker pada otak sebelah kananku sehingga harus dilakukan sebuah operasi kecil untuk menghambat tekanan sehingga tidak terjadi sakit kepala yang kurasakan setiap saat. Dan operasi tersebut boleh dikatakan sebagai pembedahan diluar penyakit kankerku. Bertujuan hanya untuk mengurangi rasa sakit kepalaku namun tidak menghapus kanker itu dari kepalaku Setiap Aku terbangun dari tidurku Aku selalu memandangin dimana Aku berada. Aku terkadang merasa takut ketika Aku bangun dan tidak berada ditempat dimana ada orang orang yang kusayangin. Aku bahagia. Ketika Aku bangun selalu ada Ayah dan orang-orang yang Aku sayangin, sahabatsahabatku
selalu hadir dalam setiap Aku membuka mataku. Mereka datang dengan berbagai cerita yang membuat Aku ingin lekas sembuh dan keluar dari rumah sakit ini.
            Ada sebuah berita besar yang membuat Aku sedikit tidak percaya. Ketika kepala sekolahku memanggil Ayah untuk ke sekolah karena ingin memberitahukan sebuah prestasiku di sekolah. Ayah sempat meminta izin padaku untuk bertemu dengan kepala sekolah namun ia merahasiakan isi dari pertemuan tersebut karena Ayah sendiri tidak terlalu yakin dengan apa yang terjadi.
            “Selamat ya Pak, hasil ujian Keke nilainya bagus.. Keke terbaik ketiga dikelas.!” jelas kepala sekolah dan Ayah sedikit bingung.
            ”Pak kepala sekolah jangan bercanda.. Saya tahu anak saya akan mati sebentar lagi. Tapi jangan dikasih sesuatu yang bukan dan tidak mungkin. Mana mungkin anak saya bisa jadi ketiga terbaik dikelas.!”
            ”Sabar Pak Jody.. Saya tidak mengada-ada ini bukti dari hasil nilai anak Bapak.. Memang nilai Keke terbaik ke tiga dikelas.!”
            ”Astaga.. ” Ayah hanya terdiam kemudian terharu menangis. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Semua nilai ujian yang Aku selesaikan mendapatkan nilai A. Dan tangisan itu seolah bahagia karena Aku membuktikan Aku masih sanggup dalam ujian walaupun kondisiku memburuk.
            Berita baik itu akhirnya sampai pada telingaku. Aku mengucap syukur kepada Tuhan setidaknya usahaku untuk terus belajar dan menjadi yang terbaik dapat terkabulkan. Aku hanya tersenyum dan berharap ini adalah nyata. Dan Aku tidak sedang bermimpi. Semua ini terjadi dengan nyata. kuperhatikan setiap nilai yang kudapat, rasa haru dan bahagia menghiasi setiap ruang hatiku. Ucapan selamat berdatangan dari semua orang yang kusayangin. Dan salah satu orang yang mengucapkan kata-kata selamat itu adalah Ibu.

[13]
TUHAN, IZINKAN AKU KEMBALI, WALAU SESAAT

Hari demi hari, detik demi detik yang berlalu. Membuatku Aku berpikir akan suatu saat kelak. Bila Aku sungguh tidak ada dan bergerak. Apa yang akan terjadi dengan dunia. Mungkin terkadang Aku takut untuk melihat hal tersebut. Namun Aku telah siap. Mungkin waktuku telah mulai berhitung untuk mundur. Setiap kenangan yang ada dihatiku mulai muncul entah itu masa masa ketika Aku kecil, hingga masa masa dimana Aku pernah bahagia
muncul dalam mimpiku.
            Pada hari itu, keadaan tidak seperti biasanya. Dokter mulai bergegas memasukin ruanganku dengan beberapa perlengkapan kedokteran. Aku mulai tak dapat bernafas dengan baik. Suaraku bahkan tak terdengar dengan baik. Tekanan kepalaku tidak seperti biasanya. Mungkin kanker itu telah menutupi kesadaranku secara perlahan. Aku melihat dengan sayup dan tak jelas Ayah terus memanggil namaku diikutin oleh tangis orang orang di sekitarku.
            Kanker dalam tubuhku menyebar keseluruh organ tubuhku. Mulai dari kepalaku yang terus tertekan, hidungku yang mulai kehilangan kepekaan. Paru-paruku yang terus mengeras dan terasa sulit bernafas. Aku pun mulai tak kuat untuk melihat. Kanker itu merusak pemandangan yang bisa Aku lihat dari mataku. Dan dokter menyuntikan sesuatu dalam tubuhku hingga nyaris membuatku meronta-ronta kesakitan namun Aku tidak dapat berteriak. Aku hanya menangis. Suaraku menghilang. Dan kupadangi Ayah dengan mataku. Ingin Aku berkata. Rasa sakit suntikan tersebut.. Namun akhirnya obat tersebut bereaksi dan mataku memejam dan Aku mulai terbawa dalam suatu mimpi yang pernah terjadi dalam hidupku.
            Dokter mengatakan kepada Ayah. Mungkin hidupku akan berakhir dalam beberapa hari lagi. Namun Ayah terus memohon dokter menyelamatkan Aku. Hingga dokter berpikir satu hal menghubungi sebuah rumah sakit di Amerika. Terdengar kabar rumah sakit itu pernah menanganin kasus yang sama denganku. Berapapun biaya yang akan dikeluarkan Ayah tidak peduli dan ia ingin Aku terus bertahan.
            Namun usaha terakhir Ayah untuk berharap pada rumah sakit di Amerika tersebut sia-sia. Kanker di tubuhku telah ada pada tahap akhir dalam hidupku. Mereka tidak ingin mengambil resiko dengan kondisiku yang sudah penuh dengan penyebaran kanker. Ayah hanya menangis dan frustasi dengan keadaan tersebut. Dia mulai mempersiapkan segalanya. Termasuk apapun permintaan terakhir yang hendak Aku katakan. Namun Aku tidak pernah
terbangung sejak pemberian obat tersebut.
            Dokter mengatakan tubuhku koma untuk waktu yang sulit dijelaskan. Semua sahabatku mulai berdatangan dan keluarga besarku mulai berkumpul disisiku. Walau Aku tertidur tanpa pernah bangun. Mereka selalu setia ada disampingku. Aku hanya tinggal menghitung detik dalam hidupku. Namun Aku tidak dapat bangun. Aku hanya terdiam bagaikan sebuah boneka. Hanya mesin pemantau detik jantung di samping tubuhku yang terus berbunyi menandakan masih adanya kehidupan dalam tubuhku.
            Aku berjalan dalam suatu tempat dimana yang Aku selalu ingat. Tempat dimana Aku selalu merasa bahagia. Sebuah kota penuh dengan arsitektur khas dengan sebuah menara tinggi menghiasi kota tersebut menara Effiel. Aku berada di sebuah negara Eropa bernama Prancis tepatnya di Paris. Entah mengapa Aku berada di sini. Namun tempat ini pernah Aku lalui sebelumnya.
            Aku berjalan sendirian memperhatikan setiap toko-toko baju disampingku yang penuh dengan pakain yang tersembunyi dalam bingkai kaca nan indah. Semua orang tersenyum padaku. Namun Aku tidak mengenal mereka. Aku terus berjalan tanpa arah. Entah apa yang Aku lakukan di kota Paris. Namun hal ini pernah terjadi dalam hidupku. Aku memperhatikan sebuah rumah yang indah. Rumah yang berciri khas Prancis. Rumah tersebut dihiasin dengan bunga melati di pagarnya. Dan berwarna putih dan bersih. Aku sempat berpikir rumah siapa yang indah dan berdiri ditengah tengah kota. Kupandangin setiap ruas rumah tersebut. Ingin
rasanya Aku masuk ke dalam rumah tersebut. Namun pintu pagar yang tingginya mencapai 10 meter menghalanginku untuk masuk, dan Aku hanya berdiri memperhatikan rumah tersebut dari luar.
            Setelah beberapa saat seseorang keluar dari rumah tersebut. Orang tersebut juga tidak asing untukku. Wanita itu berpakaian serba putih dengan seranjang bunga melati yang ia petik dari tamannya. Dia tersenyum kepadaku. Dan Aku membalas senyum itu dengan penuh semangat. Dan dia mulai mendekatiku dan membuka pintu pagar rumahnya.
            ”Rasanya Keke pernah lihat Kakak deh?” ujarku padanya dan dia hanya tesenyum padaku dan Aku mencoba mengingat. Wanita tersebut berpakaian serba putih dan cantik. Matanya terlihat terpancar sebuah kebahagian dan rambutnya yang indah terkulai rapi menutupi gaunnya yang putih.
”Ya Tuhan.. Kamu kan malaikat yang ada di mimpi Keke dulu!” ujarku dan mengingatkan ketika Aku bermimpi bertemu seorang malaikat yang menyelamatkan hidupku.
”Tapi kenapa kita bisa ketemu di Paris ya..!” tanyaku padanya dan dia masih terdiam.
Dan dengan lembutnya orang tersebut menyerahkan keranjang berisi melati padaku. Bunga tersebut masih terlihat segar dan Aku mulai mengambil dari keranjang yang ia bawa.
”Ini buat Keke..!” tanyaku dan dia hanya tersenyum padaku. Dia mengajakku ke sebuah taman didalam istananya. Kemudian kami terduduk bersama sambil memperhatikan bunga ditamannya dan Aku tertidur dipangkuan tubuhnya yang hangat dan nyaman .
”Keke.. Kamu gak mau pulang.. Nanti Ayah dan teman-teman kamu cari kamu..!”tanyanya.
”Oh iya ya, Keke sudah berapa lama disini. Sampai lupa sama Ayah!!” jawabku terlihat panik karena sudah lama bermain dengan wanita cantik itu.
”Tapi Keke masih mau disini.. Disini enak. Keke jadi gak perlu rasain sakit..!”
”Tapi kamu sudah pamitan belum sama Ayah dan teman-teman kamu kalau kamu disini!”
”Belum sih.. Iya ya.. Nanti Ayah kirain Aku hilang lagi.. !”
”Hm, kalau gitu sekarang kamu pulang dan pamitan sana sama mereka.. Jadi mereka gak bingung cari kamu ..!”
”Tapi.. Keke bolehkah disini lagi kalau sudah pamitan..!”
”Dengan senang hati.. Keke boleh selamanya disini.. !|
            ”Kalau gitu Keke pamitan dulu ya.. Ayah pasti tungguin Keke di rumah!”
            ”Oh ya.. Bunga melati ini Keke bawa ya untuk kasih ke Ayah.. Pasti Ayah suka.. !”
            Dan malaikat itu hanya tersenyum kepadaku, lalu ia mengantarkanku hingga ke gerbang istananya. Aku berlari menuju rumahku dan terus berlari hingga untaian melati yang kupegang erat terjatuh satu persatu. Aku melihat satu titik cahaya dimana Aku merasa cahaya itu semakin dekat ketika Aku berlari. Dan Aku pun mengikutin cahaya itu hingga akhirnya Aku terbangun dari mimpiku.
            Tiga hari lamanya Aku mengalami koma tanpa pernah bangun. Dan ketika Aku terbangun dalam mimpiku. Perlahan kubukakan mataku. Seluruh keluargaku ada disampingku. Ayah. Ibu. Kedua kakakku. Dan pamanku serta teman-temanku telah ada disampingku. Aku senang mereka tidak marah padaku karena Aku pergi tanpa pamitan. Dan Ayah dengan cepat memanggilku.
            ”Keke.. Keke sudah bangun..!” tanya Ayah dan dikutin oleh seluruh ruangan.
            ”Ayah.. Maaf.. Keke pergi tanpa pamitan!” ujarku dan Ayah bingung dengan pernyataanku barusan.
            ”Gak papa.. Keke kalau mau pergi.. Pergi aja. Ayah sudah ikhlas kok!!” ujar Ayah dan mulai mengerti maksudku.
            ”Ayah.. Ibu... Kakak... !” dan mulutku mulai tak kuat untuk berbicara..
            Aku masih ingin mengatakan beberapa hal namun suaraku mulai hilang dari mulutku. Aku kesulitan untuk berkata-kata. Aku hanya menangis ketika melihat mereka ada disampingku. Ayah mencoba mendekatkan telinganya padaku namun sia-sia. Tidak ada suara yang bisa kusampaikan. Dan pamanku mendapatkan ide untuk mengambil sebuah kertas dan pena. Kemudian membiarkan Aku menulis.
            ”Tulis disini.. Keke.. Tulis disini..!” ucap pamanku.
            Dan mungkin banyak hal yang ingin Aku tulis namun tanganku mulai tak kuat bergerak. Aku hanya ingin melihat keluargaku bahagia dan rukun. Aku ingin ketika Aku pergi keluarganya bisa ikhlas dan menerima semua ini. 15 tahun lamanya Keke hidup dalam sebuah kebahagian dalam dunia ini. walau sebuah tulisan yang mampun kasampaikan hanya..
            ”Rukun.. Dan bahagialah ketika Keke pergi..!”
            Namun tulisan tersebut setidaknya menjadi harapan terakhirku. Ibu maafkan Aku bila selama ini banyak salah terhadap di kau. Ayah terima kasih telah merawat Keke tanpa pernah menyerah. Kedua kakakku yang selalu ada ketika Aku butuhkan. Dan untuk sahabat.. Kenangan ketika Aku bersama kalian tidak akan pernah sirna dalam hidupku. Walau mungkin Aku tidak mempunyai nafas untuk menghirup dunia. Namun Aku mempunyai nafas
untuk mengingat kalian selamanya.
            Setelah apa yang ingin kusampaikan telah tercapai. Seluruh keluargaku mulai mengikhlaskan Aku untuk pergi. Air mata menjadi tanda terakhir ketika Aku mulai kembali mengantuk. Aku merasa lelah. Aku ingin memejamkan mataku kembali. Namun Aku melupakan satu hal yang kubawa dari malaikat yang memberikan Aku hadiah untuk orang yang kusayangi.
Bunga melati yang kubawa. Tertinggal.
Kakak yang cantik berada disana menungguku, bolehkan Aku memintaku untuk memberikan harum bunga Melati kepada setiap orang yang kutinggalkan. Biarkan harum tersebut menghapus duka dalam hati mereka. biarkan harum tersebut membawaku padamu. Karena Aku telah siap untuk bersamamu di istanamu. Dan biarkan harum tersebut mengakhiri duka sedih ini menjadi kebahagian. Biarkan harum tersebut menjadi pertanda Aku telah pergi dari dunia ini.. bolehkah!!.
Dan sebuah wangi melati muncul disaksikan oleh beberapa orang yang berada di detik detik terakhir nafas Keke. Wangi tersebut terjadi sekitar lima menit lamanya. Mengakhiri perjuangan dan ketegaran seorang Keke di dunia ini. Membuat kita berkaca akan sebuah kehidupan tidak ada yang abadi dan hanya sementara. Namun kehidupan yan ditinggalkan Keke mengajarkan kita akan suatu ketabahan dan kekuatan bahwa hidup akan selalu ada untuk setiap orang dan selalu akan ada akhir.

Tamat.







0 komentar:

Posting Komentar